Komunitas Sungai akan Berkumpul di Yogya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pemukiman penduduk di bantaran Sungai Code  Yogyakarta. ANTARA/Noveradika

    Suasana pemukiman penduduk di bantaran Sungai Code Yogyakarta. ANTARA/Noveradika

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sejumlah aktivis komunitas sungai berbagai kota di wilayah Jawa bakal menghelat pertemuan regional, dalam rangka Hari Sungai Nasional. Untuk yang pertama kalinya, mereka akan berkumpul dan mengangkat isu-isu aktual seputar kondisi dan persoalan sungai di berbagai kota.

    Pertemuan yang akan dilakukan di Hotel Jayakarta itu, dilakukan pada 27 Juli, dan akan menjadi wahana fondasi jejaring antar komunitas, sebelum memperluas jejaring antar komunitas sungai di seluruh nusantara.

    “Pertemuan di Yogya ini sebagai bekal untuk merumuskan gerakan baru dalam pelestarian sungai, yang akan dilakukan lewat Kongres Sungai Nasional di Banjarnegara, Jawa Tengah Agustus nanti,” kata aktivis sungai Pemerti Kali Code, Totok Pratopo, di Kantor Biro Tempo DIY Jawa Tengah, Selasa (14/7).

    Aktivis yang belum lama ini memperoleh penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup itu menuturkan, pertemuan di Yogya akan diikuti sedikitnya lima komunitas sungai seperti dari Komunitas Kali Brantas Kota Surabaya, Kali Pepe Kota Solo, Kali Garang Kota Semarang, Sungai Ci Kapundung Kota Bandung, dan Kali Elo Kabupaten Magelang. “Dari Yogyakarta, seluruh komunitas sungai akan hadir,” ujarnya.

    Komunitas sungai di Yogyakarta seperti Kali Code, Winongo, Gadjah Wong, Sungai Kuning, Tambak Bayan, dan sungai-sungai di bawah kaki Gunung Merapi.

    Totok menuturkan, isu sungai saat ini tak mungkin diselesaikan sendiri oleh pemerintah tanpa melibatklan masyarakat. Sebab persoalannya terlalu kompleks dan menyangkut berbagai kepentingan. “Tujuan awal pertemuan antara komunitas ini membentuk wadah semacam asosiasi bersama untuk memberi ruang jelas bagi aktivis lain yang sampai saat ini belum terbentuk kelembagaannya,” kata Totok.

    Sebab, tanpa adanya pengakuan kelembagaan, Totok pesimis gerakan pelestarian sungai ini menjadi perhatian bersama terutama dari pemerintah. “Padahal, seluruh sektor kehidupan turut dipengaruhi kondisi sungai. Tak hanya masyarakat di bantaran tapi seluruhnya,” kata dia.

    Aktivis dari Gerakan Cinta Code, Haris Syarief Usman, menambahkan isu sungai terutama di perkotaan tak hanya soal bagaimana membersihkan sampah yang selama ini membuat sungai kotor dan tak bisa lagi dimanfaatkan airnya. “Tapi soal mengubah gaya hidup, bagaimana memperlakukan sungai,” ujarnya.

    Misalnya dengan cara yang dirintis Gerakan Cinta Code sejak 2000, Warga didorong untuk mengubah posisi rumah warga di bantaran Code, agar tak membelakangi sungai. Tapi menghadap langsung sungai. “Sungai jadi halaman depan. Warga malu kalau kotor. Dan gerakan ini efektif di sebagian bantaran Code,” kata dia. PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.