Bukan Istri Ketiga Eks Bupati Kediri: 'Kami Rekan Bisnis'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelaksanaan Pemilukada Kediri 2010 (12/5).  ANTARA/Arief Priyono

    Pelaksanaan Pemilukada Kediri 2010 (12/5). ANTARA/Arief Priyono

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengusaha kopi luwak asal Kediri, Yekti Murih Wiyati, membantah kabar di media online yang menyebut dirinya sebagai istri ketiga mantan Bupati Kediri Sutrisno. "Itu fitnah," kata Yekti ketika ditemui Tempo di rumahnya, Selasa, 14 Juli 2015.

    Meski begitu, Yekti mengakui punya hubungan khusus dengan Sutrisno. "Keluarga kami saling mengenal," katanya. Ibu empat anak berusia 39 tahun ini menjelaskan kalau kakek neneknya adalah orang kaya di Kediri yang sukses di bidang pertanian dengan luas lahan mencapai puluhan hektar. Keluarga besar Yekti juga sebagian besar menjadi pengusaha dan birokrat dan sudah lama menjalin perkawanan dengan keluarga Sutrisno.

    Selain itu, Yekti pun mengakui punya hubungan bisnis dengan keluarga Sutrisno. Saat ini Yekti tengah menjalankan kerja sama pengelolaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) dengan dua anak Sutrisno.

    Tak hanya itu, Yekti juga memiliki usaha pembuatan kopi luwak yang dirintisnya sejak tahun 2010. Belakangan, setelah sukses, usaha itu bekerjasama dengan Bupati Haryanti, istri Sutrisno,  untuk memancing kehadiran wisatawan mancanegara ke Kediri. Pasalnya  produksi kopi Yekti yang berlabel “Luwak Mas” itu telah merambah pasar berbagai negara Asia dan Eropa.

    Yekti mengaku kabar yang menyebut dirinya menjadi istri ketiga Sutrisno sangat melukai hubungan keluarga besar mereka. Selain itu, sebagai pengusaha, Yekti merasa dicemarkan di hadapan rekan bisnis maupun konsumennya. "Media online yang menulis berita keliru itu harus meminta maaf secara tertulis," katanya.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.