Sawah Kekeringan, Petani Tasikmalaya Mulai Pakai Kincir Air  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kekeringan. REUTERS/Mohamed Abd El Ghany

    Ilustrasi kekeringan. REUTERS/Mohamed Abd El Ghany

    TEMPO.CO, Tasikmalaya - Lahan persawahan di Kampung Sukasirna, Desa Mangunsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mulai kekeringan. Petani setempat kemudian membuat kincir air di Sungai Citanduy.

    Kincir air ini berfungsi mengambil air dari Citanduy untuk dialirkan ke lahan persawahan yang mengering. "Sudah satu bulan kekeringan," kata Engkos Kosasih, seorang petani, saat ditemui di bantaran Sungai Citanduy, Sabtu, 11 Juli 2015.

    Dia mengatakan, petani baru membuat dua unit kincir. Tahun lalu, jumlah kincir di Citanduy mencapai tujuh unit. "Nanti bulan Syawal ada pembuatan kincir lagi," kata Engkos.

    Dari kincir, air disalurkan ke area persawahan melalui bambu jenis gombong. Pemakaian bambu tentunya ada rembesan-rembesan air pada sambungan bambu.

    Karena itu, Engkos meminta pemerintah daerah memberi bantuan berupa selang untuk mengalirkan air. "Kalau pakai bambu suka rembes, kemudian membuatnya lama karena harus melubangi bambu," katanya.

    Selang yang dibutuhkan, menurut Engkos, sekitar 100-200 meter. "Kalau pakai selang tinggal pasang," ujarnya.

    Ruhiat, petani lainnya, menambahkan, area persawahan yang mulai mengering sekitar ratusan bata. Dengan adanya kincir, petani merasa terbantu.

    Pantauan Tempo di lapangan, pada kincir terdapat batangan-batangan bambu. Batang bambu itu sebagai penampung air yang akan dialirkan ke sebuah pipa yang terbuat dari bambu. Dari pipa bambu itu, air dialirkan ke persawahan yang sudah mengering.

    CANDRA NUGRAHA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.