Rumah Sakit Berbasis Agama Kerja Sama Tekan Kematian Ibu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • sxc.hu

    sxc.hu

    TEMPO.CO , Semarang: Sejumlah rumah sakit di bawah pengelolaan organisasi massa keagamaan di Kota Semarang bersepakat untuk menjalin kerja sama menekan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Langkah itu dilakukan dengan cara meneken kesepakahaman yang berisi kerja sama antar pengelola rumah sakit saling membantu di sektor penguatan pelayanan kesehatan dengan program khusus penyelamatan ibu dan bayi lahir.

    “Ini melibatkan lima yayasan berbasis agama yang mengelola rumah sakit di Kota Semarang,” kata koordinator program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) Jawa Tengah, Hartanto Harjono, sebelum acara MoU, Jumat, 10 juli 2015.

    Komitmen bersama penyelamatan ibu dan bayi lahir melibatkan empat lembaga lintas agama, terdiri dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang, Pengurus Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum, Pengurus Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung, Pengurus Yayasan RS St. Elisabeth Semarang dan Pengurus Yayasan Pelayanan Kesehatan Bala Keselamatan.

    “Mereka sepakat meningkatkan kualitas pelayanan dan rujukan maternal dan neonatal ditingkat fasilitas kesehatan,” kata Hartanto.

    MoU ini juga sebagai upaya meningkatkan peran serta organisasi keagamaan dalam menekan angka Kematian Ibu di Jawa Tengah masih cukup yang cukup tinggi tinggi. Data tahun 2014 menunjukkan, Angka Kematian Ibu di Jawa Tengah mencapai 711 kasus dan Angka Kematian Bayi 5.666 kasus.

    “Itu artinya selama tahun 2014, setiap hari terdapat hampir dua orang ibu hamil meninggal dan hampir 16 bayi meninggal tiap hari,” katanya.

    Penyebab utama kematian ibu saat antara lain karena hipertensi pada persalinan (eklampsia), perdarahan, infeksi dan sebagainya. Sedangkan penyebab utama kematian bayi barulahir adalah lahir prematur, infeksi dan sebagainya.

    Sementara itu Ketua Forum Masyarakat Madani (FMM) Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Kota Semarang, Ahmad Jawahir mencatat angka kematian ibu (AKI) di kota Semarang juga semakin meningkat dalam dua tahun terakhir.  “Dari 29 jiwa menjadi 33 jiwa ini justru naik dari tahun sebelumnya ,” kata Ahmad.

    Ahmad menilai faktor yang mempengaruhi tingginya AKI di Kota Semarang antara lain ibu tidak peduli kehamilan bahkan ada yang enam bulan belum pernah periksa kehamilan. Selain itu juga dipengaruhi oleh usia ibu hamil yang relatif masih muda dan layanan birokrasi rumah sakit. "Dulu sebelum ada BPJS birokrasi pemerintah masih berbelit. Rumah sakit masih memperhitungkan masalah jaminan keuangan," katanya.

    Kasus kematian ibu dan bayi lahir di Kota Semarang itu berbeda dengan daerah lain di Jawa Tengah yang punya kasus yang sama. Di sejumlah daerah di lain di Jawa Tengah, justru kematian ibu dan bayi dipengaruhi oleh minimnya infra struktur dan akses jalan menuju tempat layanan kesehatan.

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.