Gunung Raung Erupsi, Bandara Jember Ditutup 3 Jam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepulan asap solfatara Gunung Raung terlihat dari Desa Sumber Arum, Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur, 7 Juli 2015. ANTARA/Budi Candra Setya

    Kepulan asap solfatara Gunung Raung terlihat dari Desa Sumber Arum, Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur, 7 Juli 2015. ANTARA/Budi Candra Setya

    TEMPO.COJember - Bandar Udara Notohadinegoro, Jember, ditutup selama tiga jam, Jumat, 10 Juli 2015, kendati tidak sampai terpapar abu vulkanis erupsi Gunung Raung. Penutupan bandara yang terletak di Kecamatan Ajung itu mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB sebagai langkah antisipasi.

    Kepala Unit Pelaksana Teknis Bandara Notohadinegoro Edi Purnomo mengatakan penutupan bandara tersebut menyebabkan penerbangan pesawat komersial Garuda Indonesia dari Jember ke Surabaya mengalami delay. Garuda Indonesia yang sedianya mendarat di Bandara Notohadinegoro pada pukul 09.30 WIB ditunda menjadi 12.30 WIB. "Ada perubahan jadwal," ucapnya.

    Penutupan Bandara Notohadinegoro dilakukan berdasarkan notice to airman yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan kepada lima bandara, yakni Bandara Internasional Ngurah Rai; Bandara Internasional Lombok; Bandara Selaparang, Mataram; Bandara Blimbingsari, Banyuwangi; dan Bandara Notohadinegoro.

    Menurut Edi, sebenarnya Bandara Notohadinegoro tidak terpengaruh oleh sebaran abu vulkanis Gunung Raung. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, hari ini angin mengarah ke timur dan tenggara. "Penundaan jam penerbangan ini baru terjadi sekali ini sejak status Gunung Raung dinaikkan dari waspada menjadi siaga," tutur Edi.

    Ada dua maskapai yang beroperasi di Bandara Notohadinegoro, yakni Garuda Indonesia dan Susi Air. Garuda Indonesia setiap hari sekali melayani penerbangan dari Jember ke Surabaya. Adapun Susi Air hanya melayani sekali seminggu rute Jember-Sumenep.

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.