Anak Tewas Dianiaya Ayahnya Ternyata Kerap Di-bully di Sekolah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto repro Tiara semasa hidup yang di tunjukkan kerabatnya di Polsek Makassar, Sulawesi Selatan, 09 Juli 2015. Tiara tewas karena dipukuli ayah kandungnya, Rudi Haeruddin dengan menggunakan sapu dan balok kayu di rumahnya di Jalan Rappocini, Makassar. TEMPO/Iqbal Lubis

    Foto repro Tiara semasa hidup yang di tunjukkan kerabatnya di Polsek Makassar, Sulawesi Selatan, 09 Juli 2015. Tiara tewas karena dipukuli ayah kandungnya, Rudi Haeruddin dengan menggunakan sapu dan balok kayu di rumahnya di Jalan Rappocini, Makassar. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO , Makassar:   Tiara (13), anak yang tewas di tangan ayah kandungnya, Rudi Haeruddin (35), ternyata menjalani hidup yang tak mudah. Di samping menjadi tulang punggung keluarga, murid SD Maricayya Makassar itu kerap di-bully oleh temannya. Beberapa-kali, Tiara menyatakan ingin pindah sekolah karena tak tahan dengan hinaan teman-temannya.

    Salah seorang teman Tiara, Ihwan alias Ciwang (11), mengatakan Tiara sebenarnya adalah anak yang baik dan periang. Tapi, Ihwan  juga tak paham kenapa almarhumah dijauhi dan sering dihina. "Biasa bahkan dipukul sama teman laki-laki di sekolah," ujar Ihwan, kepada Tempo, Kamis, 9 Juli.

    Ihwan mengatakan ia biasa bermain dengan Tiara, tapi tak begitu dekat. Tiara disebutnya merupakan orang yang cukup cerewet tapi baik hati. Mungkin karena itu banyak temannya yang tidak suka dengan sifatnya. Belum lagi, terkadang Tiara suka menyendiri.

    Wali Kelas Tiara di SD Maricayya, Nurliati, mengatakan pihaknya belum terlalu mengetahui karakter almarhumah lantaran baru mengajar Tiara, beberapa waktu setelah naik kelas V. Tapi, Nurliati mengaku pernah mendengar laporan bahwa almarhumah sering diejek rekannya. Mereka menyebut Tiara berasal dari keluarga yang tak beres.

    Nurliati menjelaskan selama proses belajar mengajar di kelas, Tiara pun disebutnya memang tidak terlalu menonjol. Malah, beberapa-kali dirinya mendapati almarhum tertidur di kursi belakang. "Sering tidur anaknya. Tapi, belakangan saya baru tahu kalau dia ternyata bisa kerja sampai malam. Mungkin karena itu jadi ngantuk," ujar dia.

    Sementara itu, ibunda Tiara, Ani (30), mengatakan buah hatinya itu memang kerap curhat kepadanya mengenai hinaan rekannya di sekolah. Tiara sering mengaku ingin memukuli teman yang menghina keluarganya itu. Tapi, selalu diingatkannya agar tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum.

    Karena terus dihina, Tiara pernah mengutarakan kepada sang ibu untuk pindah sekolah. Keinginan itu tak bisa dikabulkan Ani karena tak mempunyai cukup uang untuk mengurus kepindahan putri sulungnya itu. "Saya minta sabar karena tak mungkin bisa pindah sekolah. Mau dapat uang dari mana?," tuturnya.

    Kini, Tiara sudah tak bisa di-bully lagi lantaran telah tiada. Perjalanan berat hidupnya yang menafkahi keluarganya berakhir di tangan ayahnya, Rudi di rumahnya di Jalan Rappocini Raya Gang I, Makassar, Selasa, 7 Juli, sekira pukul 21.00 Wita. Dengan brutal, pria pengangguran itu memukuli Tiara memakai sapu dan balok kayu. Korban sempat dirawat di RS Wahidin Sudirohusodo, sampai akhirnya dinyatakan tewas, Rabu, 8 Juli, sekitar pukul 07.00 Wita.

    TRI YARI KURNIAWAN

    VIDEO TERKAIT:


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.