Indonesia-Malaysia Bahas Isu Perbatasan Usai Lebaran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato' Seri Zahrain Mohamed Hashim (tengah) mengklarifikasi kabar yang menyebut negaranya tidak serius dalam perundingan perbatasan dengan Indonesia, di Jakarta, 17 Oktober 2014. Tempo/Natalia Santi

    Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato' Seri Zahrain Mohamed Hashim (tengah) mengklarifikasi kabar yang menyebut negaranya tidak serius dalam perundingan perbatasan dengan Indonesia, di Jakarta, 17 Oktober 2014. Tempo/Natalia Santi

    TEMPO.CO , Jakarta:Duta Besar Kerajaan Malaysia untuk Indonesia Zahrain Mohamed Hashim mengatakan perundingan isu perbatasan dengan Indonesia segera digelar dalam waktu dekat. Kedua negara telah menunjuk utusan khusus yang akan bertemu di meja perundingan.

    "Kemungkinan perundingannya setelah hari raya nanti," kata Zahrain dalam pertemuan terbatas di Kedutaan Besar Malaysia, Rabu, 8 Juli 2015.

    Pemerintah Malaysia menunjuk mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, Tan Sri Mohd Radzi Abdul Rahman. Sementara, Presiden Joko Widodo menunjuk mantan Duta Besar RI untuk Jerman, Eddy Pratomo untuk mewakili Indonesia.

    Zahrain menyebut utusan khusus Malaysia sebenarnya sudah ditunjuk sejak masa pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono. Akan tetapi, perundingan belum dapat dilaksanakan karena Indonesia belum memberi tahu utusan khusus yang ditunjuk.

    Presiden Joko Widodo baru menunjuk utusan khusus setelah bertemu Perdana Menteri Najib Razak di Kuala Lumpur pada Februari lalu."Indonesia tidak memberikan notifikasi pada kami bahwa utusan khusus telah ditunjuk," ujar Zahrain.

    Zahrain menegaskan meskipun sering ada pemberitaan tentang masalah perbatasan, hubungan Indonesia dan Malaysia tetap terjaga baik. Militer kedua negara, ujar dia, masih menggelar latihan bersama dan sering berkomunikasi.

    Insiden terbaru pelanggaran perbatasan oleh Malaysia terjadi pada awal bulan lalu. Malaysia diduga melanggar perbatasan di Ambalat. TNI Angkatan Udara pun mengerahkan dua pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dan dua pesawat Sukhoi untuk memantau kawasan Ambalat.

    Satuan Radar Tarakan TNI AU mencatat sepanjang 2015 terjadi sembilan kali pelanggaran wilayah udara di Ambalat oleh Malaysia. Dari jumlah itu, Indonesia mengklaim telah mengajukan dua nota protes resmi pada pemerintah Malaysia.

    MOYANG KASIH DEWIMERDEKA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pidato Jokowi Terkait Kinerja dan Capaian Lembaga Tinggi Negara

    Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR pada 16 Agustus 2019. Inilah hal-hal penting dalam pidato Jokowi.