KASUS ANGELINE: Anak Margriet Mantan Mekanik F-18 AL Amerika  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kedua anak kandung Margriet, Yvonne Caroline Megawe (kanan) dan Christina Telly Megawe usai menemui ibunya yang sedang diperiksa di Markas Polda Bali, Denpasar, Bali, 17 Juni 2015. Yvonne dan Christina akan diperiksa pada esok hari sebagai saksi atas dugaan kasus penelataran anak, yaitu Angeline, oleh ibu kandungnya, Margriet. TEMPO/Johannes P. Christo

    Kedua anak kandung Margriet, Yvonne Caroline Megawe (kanan) dan Christina Telly Megawe usai menemui ibunya yang sedang diperiksa di Markas Polda Bali, Denpasar, Bali, 17 Juni 2015. Yvonne dan Christina akan diperiksa pada esok hari sebagai saksi atas dugaan kasus penelataran anak, yaitu Angeline, oleh ibu kandungnya, Margriet. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Denpasar - Kabar Christina Scarborough, salah seorang putri tersangka pembunuhan Angeline, Margriet Christina Megawe, merupakan anggota marinir Amerika Serikat ternyata benar.   Kuasa hukum keluarga Margriet, Aldres J. Napitupulu, membenarkan bahwa Christina berstatus warga negara Amerika Serikat. Bahkan perempuan 28 tahun tersebut pernah menjadi tentara di Angkatan Laut Amerika Serikat.

    “Dia warga Amerika sejak lahir. Di sana dia kerja dulu, masuk di Angkatan Laut Amerika Serikat sebagai mekanik pesawat tempur F-18,” kata dia kepada wartawan, Kamis, 9 Juli 2015. Sebagai tentara, Christina memiliki pangkat setingkat kopral.

    Baca juga:
    Pastikan Kematian Angeline, Margriet Injak Kaki dan...
    Pria Sydney Akhirnya Bongkar Peran Putri Margriet

    Namun sebelum tinggal di Amerika Serikat, saat kecil Christina mengikuti ayahnya yang menghabiskan masa hidupnya di Indonesia. Buah hari pasangan Douglas dengan Margriet Christina Megawe ini sekolah di Jakarta. Selain itu, dia juga sempat bersekolah di Pekanbaru.

    Saat beranjak ke masa kuliah, dia memutuskan untuk tinggal di Amerika Serikat. Tepatnya di Austin, Texas, Amerika Serikat, seorang diri. Dia bergabung di Angkatan Laut Amerika Serikat karena ingin mendapatkan beasiswa kuliah yang ia idam-idamkan. Christina bekerja selama empat tahun menjadi teknisi pesawat tempur F-18.

    Setelah selesai menjalani masa kerja dan pelatihan selama empat tahun, Christina kemudian mendapatkan beasiswa kuliah dari Amerika Serikat. Saat ini dia sudah menginjak pada semester akhir dan harusnya tahun ini bisa mengikuti wisuda.

    “Nanti setelah lulus, dia bisa memutuskan bergabung ke militer atau tidak terserah Christina, jadi tidak wajib seperti di Indonesia,” kata dia. Saat ini status Christina sebagai warga sipil dan memutuskan untuk tidak konsentrasi dulu pada kuliah yang dijalaninya.

    Baca juga: Heboh Pilot Indonesia ke ISIS: 3 Faktor yang Mendorong  

    Karena saat ini dia konsentrasi untuk mendampingi ibunya yang masih menghadapi persoalan hukum. Dia ke Indonesia menggunakan visa kunjungan sosial yang belum diketahui kapan masa berlakunya. “Karena masalah ini ya harus nungguin ibunya,” ucap dia.

    Menurut Aldres, Christina dididik oleh Douglas menjadi anak yang mandiri. Karena saat menginjak usia 17 tahun, Christina diwajibkan hidup sendiri, sesuai dengan prinsip pada umumnya keluarga di Amerika Serikat. Dia juga menambahkan, Christina mengenal Laura dan Sarah, anak Douglas dari ibu yang lain. Kata Aldres, Christina intens komunikasi dengan saudara tirinya itu sejak Douglas meninggal di Singapura dan dimakamkan di Amerika Serikat.

    AVIT HIDAYAT

    Baca juga: Kisah  Tragis Ayu dan Belasan Gadis yang Dibawa ke Hotel, Dijebak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.