Jadi Sasaran Penyerangan Brutal, Polisi Diminta Introspeksi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penganiayaan. Elf.ru

    Ilustrasi penganiayaan. Elf.ru

    TEMPO.CO, Makassar -  Pengamat Kepolisian dari Universitas Bosowa 45 Makassar, Prof Marwan Mas, meminta Koorps Bhayangkara, khususnya Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan dan Barat mengintrospeksi diri. Hal itu menyusul rentetan penyerangan brutal terhadap anggota Kepolisian.

    "Kecenderungan munculnya perlawanan masyarakat atau pihak lainnya harus dicari tahu (akar masalahnya)," kata Marwan, Senin, 6 Juli 2015.

    Dalam sepekan terakhir, terjadi dua aksi brutal yang menyasar polisi. Insiden pertama terjadi di pos polisi di Bundaran Samata, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis, 2 Juli 2015. Dalam peristiwa berdarah itu, tiga polisi menjadi korban.

    Satu di antaranya yakni Brigadir Irvanudin tewas. Adapun, dua rekannya yaitu Brigadir Mus Muliadi dan Brigadir Dua Usman, selamat meski juga terluka akibat serangan sekelompok orang tak dikenal.

    Kejadian kedua terjadi di Kampung Baru, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Sabtu, 4 Juli. Dalam insiden itu, Brigadir Putra Suhardiman, dikeroyok sejumlah pemuda dengan menggunakan senjata tajam. Akibatnya, Putra mengalami luka bacok pada sekujur tubuhnya dan harus mendapat perawatan intensif. Informasi terakhir, korban dirujuk ke RS Bhayangkara Makassar.

    Rentetan aksi penyerangan itu,  menurut Marwan, akan menjadi bahan evaluasi bagi Korps Bhayangkara. Marwan berpendapat solusi atas pelbagai problema Korps Bhayangkara sebenarnya terletak pada reformasi Kepolisian. Sayang, hal tersebut belum berjalan optimal lantaran belum mengakar rumput. "Hanya terjadi di jajaran elite." 

    Kondisi itu, menurut Marwan, berpotensi membuat masyarakat menyimpan dendam dan antipati terhadap kepolisian. Imbasnya, selain bisa membuat polisi diserang, masyarakat dikhawatirkan juga tak lagi peduli bila aparat mengalami kesulitan. "Padahal, peran masyarakat amat besar karena bisa menjadi saksi. Karenanya, polisi harus bangun kemitraan," tutur dia.

    Juru bicara Polda Sulawesi Selatan dan Barat, Komisaris Besar Frans Barung Mangera, mengatakan pihaknya senantiasa mengedepankan upaya persuasif dan humanis dalam menjalankan tugas. Kepolisian juga terus berusaha membangun partisipasi masyarakat dalam menciptakan situasi kondusif di lingkungannya masing-masing.

    Soal rentetan aksi penyerangan brutal itu, Barung mengaku pihaknya terus mengusut pelaku dan motifnya. Khusus insiden pertama di Gowa, sampai sekarang para pelaku maupun motifnya masih buram. Sedang, untuk penyerangan di Mamasa, identitas pelakunya telah diketahui. Motifnya hanya karena ada seorang pemuda yang ditegur melakukan balap liar yang kemudian memprovokasi massa.

    TRI YARI KURNIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akar Bajakah Tunggal, Ramuan Suku Dayak Diklaim Bisa Obati Kanker

    Tiga siswa SMAN 2 Palangka Raya melakukan penelitian yang menemukan khasiat akar bajakah tunggal. Dalam penelitian, senyawa bajakah bisa obati kanker.