Lika Liku Proses Pembelian Alutsista  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TNI AD sebagai pengguna utama mendapatkan sekitar 36 baterai artileri, alutsista ini dirancang oleh Avibras Indstria Aeroespacial, Brasil. Sejak kasus penolakan duta besar Indonesia, pemerintah mempertimbangkan penghentian import senjata ini. Dok. Kementerian Pertahanan

    TNI AD sebagai pengguna utama mendapatkan sekitar 36 baterai artileri, alutsista ini dirancang oleh Avibras Indstria Aeroespacial, Brasil. Sejak kasus penolakan duta besar Indonesia, pemerintah mempertimbangkan penghentian import senjata ini. Dok. Kementerian Pertahanan

    TEMPO.COJakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Fuad Basya mengatakan pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) tak semudah yang dibayangkan. Proses panjang harus dilalui sebelum persenjataan baru bisa didapatkan TNI. 

    Menurut Fuad, pembelian alutsista jauh berbeda dengan pengadaan barang lain. "Bukan melalui expo kemudian kita langsung beli. Prosesnya panjang," katanya saat diskusi di Cikini, Jakarta,‎ Sabtu, 4 Juli 2015. 

    Fuad menambahkan, pembelian harus disesuaikan dengan kriteria yang dibutuhkan. Ketika wacana pembelian sudah ada, pembahasan akan dimulai dari bawah. "Pertama, asisten operasi akan mengumpulkan para panglima untuk meminta masukan. Tak boleh sebut merek."  

    Hasil pembahasan akan dibawa kepada setiap kepala staf untuk dibahas kembali. Selain disesuaikan dengan kebutuhan, pembahasan pada tingkat kepala staf biasanya akan mempertimbangkan lebih banyak hal, terutama anggaran. ‎

    Setiap kepala staf kemudian akan membawanya kepada Panglima TNI. Dari sinilah peran Dewan Kebijakan Penentu Alutsista dibutuhkan. "Mereka akan membandingkan dengan semua alutsista, apa korelasi antarmatra," ujar Fuad. 

    Proses belum sepenuhnya rampung. Sebab keputusan dari Panglima TNI akan dibawa kepada Kementerian Pertahanan. Kementerian-lah yang kemudian akan menyesuaikan dengan kemampuan anggaran negara. 

    Menurut Fuad, agar anggaran yang dibutuhkan tak besar, idealnya alutsista memang diproduksi oleh industri dalam negeri. Masalahnya, kemampuan dan pendanaan industri pertahanan dalam negeri ‎terkadang tak sesuai dengan kebutuhan TNI.  "Harusnya industri pertahanan memang disubsidi yang besar untuk mendukung alutsista TNI."

    Alutsista TNI kembali menjadi sorotan. Musababnya adalah insiden jatuhnya pesawat milik TNI Angkatan Udara berjenis C-130 Hercules dengan nomor A-1310 di Jalan Jamin Ginting, Medan, Selasa, 30 Juni 2015. Pesawat tersebut dipiloti Kapten Sandy Permana. Hercules nahas itu lepas landas dari Pangkalan Udara Suwondo, Medan, pukul 11.48 WIB. ‎

    Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengklaim sudah menyusun rencana strategis untuk pemeliharaan dan perbaikan alat utama sistem senjata. Dana yang dianggarkan cukup besar," tuturnya. ‎

    FAIZ NASHRILLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.