Keluarga Korban Hercules Minta Alutsista Tua Dimuseumkan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan paskhas TNI AU membawa 16 jenazah korban jatuhnya pesawat Hercules C-130 di Medan, dalam upacara penyambutan dan pelepasan jenazah oleh Presiden RI Joko Widodo, di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, 1 Juli 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    Pasukan paskhas TNI AU membawa 16 jenazah korban jatuhnya pesawat Hercules C-130 di Medan, dalam upacara penyambutan dan pelepasan jenazah oleh Presiden RI Joko Widodo, di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, 1 Juli 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Magetan - Sukarmo, 54 tahun, paman almarhum Sersan Mayor Bambang Hermanto, salah satu korban tragedi Hercules, berharap pesawat militer yang sudah tua tidak lagi digunakan. Dengan begitu, tragedi serupa bisa dihindari.

    "Pesawat yang sudah tua dimuseumkan saja," kata Sukarmo saat ditemui seusai pemakaman keponakannya di Tempat Pemakaman Umum Desa Karangmojo, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Kamis, 2 Juli 2015. 

    Berdasarkan berita yang ditayangkan di media massa, ia mengatakan kecelakaan pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara sudah beberapa kali terjadi. Ratusan warga sipil dan militer menjadi korban. Karena itu, Sukarmo berharap pemerintah serius menangani permasalahan alat utama sistem pertahanan (alutista). "Kasihan generasi mendatang kalau pesawat tua masih saja digunakan." 

    Hercules yang kolaps pada Selasa, 30 Juni 2015, menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban kecelakaan itu, termasuk sanak-saudara Serma Bambang Hermanto. Personel TNI AU yang bertugas di Skuadron Teknik 022 Pangkalan Udara Abdurahman Saleh ini meninggalkan seorang istri, Qurani Dari Nilasari, dan dua anak, yaitu Excel dan Haikal.

    Selama hidup, anak pasangan suami-istri Amat Sarkum dan Watinah ini dikenal sebagai orang yang sopan dalam pergaulan. Umi Kartika, kerabatnya, mengatakan Bambang sering pulang untuk menjenguk orang tuanya di Desa Karangmojo, Kecamatan Kartoharjo, Magetan. "Orangnya baik dan perhatian terhadap keluarga.” 

    NOFIKA DIAN NUGROHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.