Ini Cara Cegah Tragedi Hercules Tak Terulang Kembali  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat angkut militer Hercules. Dok. TEMPO/Suryo Wibowo

    Pesawat angkut militer Hercules. Dok. TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO , Jakarta: Pesawat milik TNI Angkatan Udara berjenis C-130 Hercules jatuh di Medan pada Selasa, 30 Juni 2015 lalu. Mantan anggota Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat Joko Susilo mengatakan ada langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk mencegah tragedi ini terulang.

    "Pertama tentu naikkan anggaran, dan masukkan pertahanan dalam skala prioritas," kata Joko saat dihubungi Tempo pada Rabu, 1 Juli 2015.

    Hal ini, menurut dia, telah lama diabaikan pemerintah, bahkan saat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

    Pesawat Hercules yang menewaskan 113 orang ini sebenarnya telah berusia lebih dari 50 tahun dan seharusnya tak layak terbang. Tak hanya itu, unit pesawat Hercules yang tersisa pun usianya juga lebih dari 40 tahun. Padahal, angkutan udara itu hanya bisa digunakan hingga maksimal 30 tahun.

    "Kalau kondisi begini, keterlaluan kalau kita tak juga beli pesawat baru," kata mantan Duta Besar RI untuk Swiss ini.

    Menurut Joko, alasan mengapa pemerintah tidak memperbaharui alat adalah karena memang sektor pertahanan tak masuk dalam skala prioritas anggaran. Besaran dana yang dianggarkan untuk sektor pertahanan besarnya kurang dari 1 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal, negara lain di ASEAN bisa menganggarkan lebih 2 persen dari PDB.

    Anggaran untuk TNI pada 2009 hanya sebesar Rp 45 triliun dan harus dibagi lima untuk Departemen Pertahanan, Mabes TNI, dan tiga badan TNI (Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara). Angkatan Udara, menurut Joko, mendapat jatah anggaran paling kecil. "Paling dapat 20 persen dari total anggaran Kementerian Pertahanan keseluruhan," kata dia.

    Padahal, alat yang diperlukan sangat mahal. Untuk pembelian satu pesawat baru bisa memakan biaya US$ 30-60 juta, tergantung konfigurasinya. Hal ini pun belum termasuk biaya operasi pesawat tersebut. Seperti Sukhoi, menurut Joko, sekali terbang bisa memakan biaya hingga Rp 500 juta.

    "Anggaran perlu ditingkatkan, minimal Rp 100 triliun," kata Joko. Selain itu, TNI juga harus memperbaiki sistem manajemen dan pemesanan alutsista.

    URSULA FLORENE SONIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Beberkan RAPBN 2020, Tak Termasuk Pemindahan Ibu Kota

    Presiden Jokowi telah menyampaikan RAPBN 2020 di Sidang Tahunan MPR yang digelar pada 16 Agustus 2019. Berikut adalah garis besarnya.