Pemimpin Syiah Sampang Pulang Kampung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua anak warga Syiah Sampang duduk di pelataran  seusai sholat Idul Fitri di pengungsian rumah susun Jemundo, Sidoarjo  (28/8). TEMPO/Fully Syafi

    Dua anak warga Syiah Sampang duduk di pelataran seusai sholat Idul Fitri di pengungsian rumah susun Jemundo, Sidoarjo (28/8). TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Sampang -- Tiga tahun pasca pecah bentrok antara penganut Islam Syiah dan Sunni di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang. Untuk pertama kalinya Pemimpin Syiah Sampang, Tajul Muluk pulang ke kampung halamannya di Dusun Nangkernang.

    Kepala Satuan Intel, Kepolisian Resor Sampang, Ajun Komisaris Agus Sutanto membenarkan kepulangan Tajul Muluk tersebut. Tapi, kata dia, kepulangan Tajul yang sempat dihukum karena kasus penistaan agama itu bukan untuk menetap. "Dia pulang untuk mengurus administrasi kepindahan kependudukan," katanya, saat diminta konfirmasi, Rabu, 1 Juli 2015.

    Tajul Muluk, kata Agus, pulang ke Nangkernang pada 22 Juni 2015 lalu. Kepulangannya pun tidak lama. Setelah urusan administrasi kependudukan selesai Tajul langsung bertolak ke Jakarta, tempat tinggalnya saat ini setelah bebas dari penjara. "Kami menyarankan agar cepat kembali setelah urusannya selesai," ujar dia.

    Meski diketahui oleh beberapa warga, Agus mengatakan kepulangan Tajul Muluk alias Ali Murtadho tidak menimbulkan gejolak atau amarah warga. "Situasi tetap kondusif karena hanya pulang sebentar," kata dia lagi.

    Adapun konflik sara antara Islam sunni dan syiah di Dusun Nangkernang terjadi pada agustus 2012 lalu bersamaan dengan hari raya Idul Adha. Ribuan warga Sunni mengepung permukiman syiah di Dusun Nangkernang dan Balu'uran.

    Puluhan rumah warga Syiah dibakar. Satu orang tewas dalam musibah tersebut. Saat ini, puluhan warga syiah Sampang dipaksa tinggal di Rusunawa Puspa Agro Kabupaten Sidoarjo.

    MUSTHOFA BISRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.