TRAGEDI HERCULES: Letda Bayu Tinggalkan Istri Hamil 7 Bulan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita anggota TNI AU menangis di atas peti jenazah suaminya, juga anggota TNI AU, yang tewas dalam musibah kecelakaan pesawat Hercules di Medan, Sumatera Utara, 1 Juli 2015. REUTERS/Beawiharta

    Seorang wanita anggota TNI AU menangis di atas peti jenazah suaminya, juga anggota TNI AU, yang tewas dalam musibah kecelakaan pesawat Hercules di Medan, Sumatera Utara, 1 Juli 2015. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Letnan Dua Bayu Perdana merupakan salah satu penumpang pesawat Hercules C-130B milik TNI Angkatan Udara dengan nomor penerbangan A-1310 yang jatuh di Medan, Sumatera Utara. Bayu pun baru menikah pada November 2014.

    Menurut Ray Danur Sri Rahayu, 49 tahun, ibunda Bayu, saat ini sang istri, Selvie sedang melakukan perjalanan dari Ranai, Kepulauan Riau, menuju Jakarta. "Dia sedang hamil tujuh bulan," kata dia di rumahnya, di Jalan Tupolev, Kompleks Skuadron, Perumahan Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu, 1 Juli 2015.

    Sejak 2014 itu, Selvie tinggal di Ranai karena menemani Bayu yang bertugas di lapangan udara di Natuna. Untuk kandungan, ucap Sri, Bayu dan Selvie sudah melakukan ultrasonografi terhadap calon cucu pertamanya dan hasilnya calon bayi itu berkelamin pria.

    Hingga saat ini, Sri masih menunggu kejelasan ihwal jenazah putranya. "Saya belum tahu kapan jenazah Bayu datang ke Jakarta," katanya.

    Sebelumnya, pesawat Hercules C-130B milik TNI Angkatan Udara dengan nomor penerbangan A-1310 jatuh menimpa permukiman warga di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara, pada Selasa, 30 Juni 2015. TNI masih menyelidiki penyebab jatuhnya pesawat buatan tahun 1964 itu.

    Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara Marsekal Pertama Dwi Badarmanto mengatakan hingga saat ini TNI sudah mengevaluasi 142 jenazah dari lokasi kejadian.

    HUSSEIN ABRI YUSUF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.