Usul Buya Syafii ke Jokowi: Carilah Menteri Petarung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafii Maarif memberikan keterangan kepada wartawan, usai melakukan pertemuan dengan calon Presiden dari PDI Perjuangan, Joko Widodo di Sleman, (3/5).  ANTARA/Regina Safri

    Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafii Maarif memberikan keterangan kepada wartawan, usai melakukan pertemuan dengan calon Presiden dari PDI Perjuangan, Joko Widodo di Sleman, (3/5). ANTARA/Regina Safri

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahmad Syafii Maarif bertemu Presiden Joko Widodo di Istana, Senin, 29 Juni 2015. Dalam pertemuan 45 menit itu, Presiden Jokowi curhat soal kinerja para menterinya. Karena itu, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang akrab disebut Buya Syafii ini, mengusulkan agar Presiden Jokowi memiliki menteri yang bermental kuat dan petarung serta punya visi ke depan untuk memperbaiki kinerja kabinetnya.

    "Tadi saya sampaikan pada presiden, carilah pembantu yang punya pandangan jauh ke depan (visioner)," kata Syafii Maarif di Kompleks Istana Presiden, Jakarta.

    Buya mengatakan pertemuan dengan Jokowi selama 45 menit ini membincangkan berbagai hal, termasuk soal kabinet. "Ya kita bicara macam-macam bangsa, negara, usul..ya saran yah..reshuffle carilah para menteri yang petarung untuk bisa membantu presiden, jangan jadi beban," katanya. (Baca: Reshuffle Menteri, Jokowi Kembali Lirik Sri Mulyani ?)

    Buya menambahkan, "Sesungguhnya kalau para menteri itu betul-betul orang profesional dan punya visi jauh ke depan, beban presiden akan lebih ringan."

    Meski demikian Syafii mengaku tidak mau mendahului Presiden, kendati ia menilai reshuffle memang dibutuhkan. "Jejak rekam selama delapan bulan kan tidak banyak perubahan, ekonomi Indonesia mundur, dunia juga begini, produk domestik kita juga menurun harganya, karet, sawit, tambang, itu juga menyebabkan pertumbuhan ekonomi kita rendah," kata dia. (Baca: Jokowi Sudah Ngebet Lantik Menteri Ekonomi Baru)

    Presiden J‎oko Widodo memastikan rombak kabinet akan segera dilakukan. Hal itu disampaikan Jokowi ketika bertemu dengan bekas Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif.

    "Saya lihat isyaratnya iya, tapi saya nggak mau mendahului," kata Syafii, setelah bertemu Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 29 Juni 2015. Namun dia enggan membeberkan menteri mana yang akan dicopot oleh Jokowi. 

    Menurut Syafii, rombak kabinet merupakan keharusan. Apalagi selama delapan bulan berjalan, kinerja kabinet Jokowi dianggap tak memberikan banyak perubahan. Salah satu sektor yang disoroti adalah ekonomi. Beberapa komoditas unggulan domestik seperti karet, kelapa sawit, hingga pertambangan mengalami penurunan. "Itu yang menyebabkan ekonomi kita melemah dan memicu pengangguran luar biasa."

    Kepada Jokowi, Maarif berpesan agar mencari menteri pengganti yang memikirkan masa depan bangsa. ‎"Tapi saya nggak tau apakah akan menunggu sampai setahun atau bagaimana. Itu urusan ‎presiden." (Baca: Buya Syafii kepada Jokowi: Cari Menteri seperti Susi)

    Syafii mengatakan pemilihan menteri yang tepat bisa mengurangi beban presiden. Salah satu menteri yang menurutnya sudah bekerja dengan baik adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Walaupun banyak kontroversi, tapi menurutnya Jokowi harus mencari menteri yang setipe dengan Susi.

    Mengenai pilihan menteri, Syafii membebaskannya pada Jokowi, apakah akan memilih kalangan dari partai politik atau profesional. Walaupun begitu, dia mengakui tak mudah bagi Jokowi untuk memilih menteri dari luar partai. "Kenyataannya kan susah, pasti nanti berasal dari parpol. Kecuali kalau dia ketua umum partai, jadi haknya lebih besar," katanya. (Baca: Apa Maksud Tjahjo Sebut Ada Menteri Hina Jokowi?)

    FAIZ N. | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.