Reshuffle Menteri, Jokowi Kembali Lirik Sri Mulyani?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo didampingi Wapres Jusuf Kalla, memimpin rapat terbatas membahas masalah pengungsi korban bencana alam serta masalah lumpur Lapindo bersama Menteri Kabinet Kerja di Kantor Kepresidenan, Jakarta, 18 Juni 2015. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma

    Presiden Joko Widodo didampingi Wapres Jusuf Kalla, memimpin rapat terbatas membahas masalah pengungsi korban bencana alam serta masalah lumpur Lapindo bersama Menteri Kabinet Kerja di Kantor Kepresidenan, Jakarta, 18 Juni 2015. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo menyatakan saat ini tim ekonomi perlu sosok yang bisa mengontrol kementerian teknis. ‎Nama mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani kembali dilirik.

    Ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetyantono, mengatakan, selain mampu mengontrol, yang diinginkan Jokowi saat ini adalah menteri ekonomi yang bisa dipercaya pasar. "Saya sempat tanyakan, apakah Bu Sri Mulyani cocok, beliau hanya tersenyum," kata Tony setelah bertemu dengan Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 29 Juni 2015. (Baca: Jelang Reshuffle, Jokowi Kumpulkan Ekonom di Istana)

    Secara umum, ‎kata Tony, Jokowi mengakui bahwa tim ekonomi saat ini diisi oleh sosok-sosok yang mumpuni. "Hanya tak ada yang sosok yang bisa mengendalikan. Ibarat kata main bola, banyak pemain bagus tapi tak ada playmaker," katanya. (Baca: Buya Syafii kepada Jokowi: Cari Menteri seperti Susi)

    Walaupun tak secara gamblang menyebut ketertarikannya pada Sri Mulyani, tapi Jokowi, kata Tony, mengakui wanita yang sekarang menjabat sebagai ‎Direktur Bank Dunia tersebut masuk dalam kriteria yang diinginkannya.

    Menurut Tony, sektor ekonomi memang masih menjadi titik berat Jokowi dalam melakukan evaluasi. Sebab, pelemahan ekonomi menjadi hal yang paling dirasakan oleh masyarakat. Jika tak segera ditangani, Indonesia bisa mengalami pemutusan hubungan kerja secara masal dua bulan mendatang. (Baca: Jokowi Sudah Ngebet Lantik Menteri Ekonomi Baru)

    Pasar, kata dia, saat ini membutuhkan sosok yang bisa dijadikan pegangan. Akibat tak adanya sosok yang dianggap ideal, kondisi pasar saat ini cenderung melemah. Padahal, sebenarnya fundamental perekonomian Indonesia tak terlalu buruk.

    Tony tak sepakat dengan anggapan perekonomian Indonesia saat ini lebih buruk daripada krisis tahun 1998. Beberapa asumsi ekonomi seperti inflasi, kurs rupiah hingga cadangan devisa menjadi bukti kekuatan fundamental perekonomian. "Cadangan devisa misalnya, dulu sempat jatuh di angka US$ 21 miliar, sekarang masih US$ 110 miliar," kata dia.

    Menurutnya, bukan perkara fundamental yang membuat perekonomian Indonesia jatuh. Meningkatkan kembali kepercayaan pasar adalah hal yang harus dilakukan pertama oleh pemerintah. "Memang butuh sosok menteri ekonomi yang bisa menenangkan pasar. Dan saya kira pergantian menteri merupakan kebutuhan mendesak," kata Tony. ‎

    Selain Tony, beberapa ekonom yang hadir antara lain ekonom dari Bank Mandiri yang juga ketua Panitia Seleksi Pimpinan KPK, Destry Damayanti; ekonom dari Perbanas, Raden Pardede; serta Komisaris Utama PT Telkom Hendri Saparini.‎

    FAIZ NASHRILLAH‎‎‎


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.