Organisasi Papua Barat Masuk MSG, Ini Respons Indonesia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Papua berorasi saat menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Malang, Jawa Timur, 24 Juni 2015. Dalam aksinya mereka menuntut pemerintah Indonesia untuk memberikan hak dan kebebasan menentukan nasib masyarakat Papua tanpa adanya intervensi dari militer serta menuntastan kejahatan kemanusiaan di tanah Papua. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Seorang mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Papua berorasi saat menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Malang, Jawa Timur, 24 Juni 2015. Dalam aksinya mereka menuntut pemerintah Indonesia untuk memberikan hak dan kebebasan menentukan nasib masyarakat Papua tanpa adanya intervensi dari militer serta menuntastan kejahatan kemanusiaan di tanah Papua. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.COJakarta – Organisasi Papua Barat bernama United Liberation Movement for West Papua menjadi pengamat pada organisasi negara-negara Melanesia atau Melanesian Spearhead Group (MSG). "Mereka memang menjadi observer, dan Indonesia itu naik jadi anggota dalam MSG," ucap juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, saat dihubungi, Jumat, 26 Juni 2015.

    Walau begitu, Tata--sapaan Arrmanatha--mengatakan organisasi Papua Barat itu bukan Organisasi Papua Merdeka yang dikenal sebagai kelompok masyarakat yang hendak membebaskan diri dari Indonesia. "Namanya saja yang organisasi Papua Barat, tapi mereka bukan OPM," ujarnya.

    Menurut dia, organisasi Papua Barat itu adalah sekelompok orang keturunan Melanesian tapi bukan warga negara salah satu dari anggota Melanesian. Misalnya, warga keturunan Melanesian berkewarganegaraan Jerman dan Brasil yang hendak menjadi anggota Melanesian Spearhead Group. "Nah, kelompok ini bagi mereka untuk memberikan wadah guna menyampaikan aspirasi mereka."

    Tata meyakinkan tidak ada anggota atau pengamat yang berasal dari Organisasi Papua Merdeka. "Karena mereka masih daerah kita, ya, mereka masuknya anggota Indonesia," tuturnya.

    MITRA TARIGAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.