Heboh MERS, Permintaan Umrah Tetap Tinggi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kesehatan Thailand menggunakan alat pelindung saat menuju ruangan isolasi pria 75 tahun yang dikarantina akibat terkena virus MERS bersama dengan tiga anggota keluarganya di Bamrasnaradura Infectious Diseases Institute, Thailand, 19 Juni 2015. Thailand mengkonformasi untuk pertama kali warganya terjangkit virus MERS yang mematikan. AP/Sakchai Lalit

    Petugas kesehatan Thailand menggunakan alat pelindung saat menuju ruangan isolasi pria 75 tahun yang dikarantina akibat terkena virus MERS bersama dengan tiga anggota keluarganya di Bamrasnaradura Infectious Diseases Institute, Thailand, 19 Juni 2015. Thailand mengkonformasi untuk pertama kali warganya terjangkit virus MERS yang mematikan. AP/Sakchai Lalit

    TEMPO.COBandung – Merebaknya penyakit Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) di kawasan Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, tak menyurutkan jemaah yang hendak menunaikan ibadah umrah. "Sebelumnya juga pernah ada kejadian MERS itu, ya. Cuma tidak berpengaruh. Sekarang saja masih biasa saja," ujar Ridwan Misbah, Direktur Biro Perjalanan Umrah dan Haji Qiblat Tour, saat ditemui di kantornya, Jalan Cibeunying Selatan, Bandung, Kamis, 25 Juni 2015.

    Ridwan menjelaskan, tak ada penurunan jumlah jemaah umroh. Dalam sepekan, pihaknya masih memberangkatkan seratus anggota jemaah. 

    Pada bulan puasa, jumlah jemaah memang berkurang. Namun dia menegaskan bahwa hal itu bukan karena virus MERS, melainkan harga akomodasi yang meningkat tajam.

    Meski demikian, dia tetap mengimbau calon anggota jemaah untuk mengikuti seluruh prosedur kesehatan dari Kementerian Kesehatan. Seluruh jemaah umrah harus memeriksakan kesehatan sebelum berangkat, melaksanakan vaksinasi, serta menjaga pola makan dan daya tahan tubuh. "Virus ini kan tidak ada obatnya, jadi ikuti aturan Kementerian Kesehatan," ucapnya.

    Anggota staf Bidang Penyehatan Lingkungan Penyehatan Penyakit (PLPP) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Agus Sukandar, menuturkan pihaknya telah mengeluarkan surat imbauan waspada MERS kepada semua dinas kesehatan. "Sudah dikirim per Maret 2015," kata Agus.

    Meski penyakit MERS termasuk dalam kategori berbahaya, pihaknya mengaku belum melakukan perlakuan khusus untuk pencegahan penularannya. Menurut dia, upaya pencegahan dapat dilakukan dengan treatment biasa, seperti pemberian vaksin dan masker.

    Jika ditemukan penderita yang terindikasi MERS, dinas kesehatan telah mengeluarkan aturan khusus. "Kami akan memantau suspect selama 21 hari. Jika terdapat keluhan, akan ditindaklanjuti," ujarnya. 

    Agus mengimbau masyarakat yang akan melakukan perjalanan ke luar negeri untuk selalu waspada. "Jika mendapati gejala MERS, seperti demam hingga 38 derajat Celcius, batuk, dan sesak pernapasan, segera laporkan ke pihak yang berwenang," kata Agus.

    ROBBY DARMAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.