Kasus MERS Belum Ditemukan di Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita melintas disamping spanduk pengumuman bahanya virus MERS di Bamrasnaradura Infectious Diseases Institute, Nonthaburi, Thailand, 19 Juni 2015. PORNCHAI KITTIWONGSAKUL/AFP/Getty Images

    Seorang wanita melintas disamping spanduk pengumuman bahanya virus MERS di Bamrasnaradura Infectious Diseases Institute, Nonthaburi, Thailand, 19 Juni 2015. PORNCHAI KITTIWONGSAKUL/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO , Jakarta:Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh memastikan Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV) belum masuk ke Indonesia. "Sejauh ini belum ada warga negara Indonesia yang positif terinfeksi MERS CoV dan dirawat atau berada di Indonesia," kata Subuh di kantornya, Kamis, 25 Juni 2015.

    Sejak MERS menyebar di Arab Saudi pada September 2012 lalu, baru dua WNI yang dilaporkan terinfeksi. Walau begitu, kedua WNI tersebut tak berada di dalam negeri melainkan di Arab Saudi.

    Pada 2014, kata Subuh, ada wanita setempat yang terinfeksi MERS di Arab Saudi. Wanita itu akhirnya meninggal di sana.

    Di tahun yang sama, seorang laki-laki jemaah umroh juga terinfeksi saat sedang beribadah di tanah suci. Dia dirawat di rumah sakit setempat hingga kesehatannya pulih. Setelah dinyatakan sembuh, baru lah ia kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat.

    Dalam sebulan terakhir, dua kasus yang diduga MERS juga mencuat di Surabaya dan Jakarta. Akan tetapi, Subuh memastikan kedua pasien itu negatif terinfeksi virus MERS.

    Pasien pertama adalah seorang anak buah kapal asal Hongkong yang berlabuh di Tanjung Perak, Surabaya. Saat kapalnya merapat, ABK itu dibawa ke klinik pelabuhan dengan keluhan demam tinggi. Dia segera dirujuk ke RS Sutomo. Hasil uji laboratorium di rumah sakit menyatakan pasien tersebut bebas MERS. Dia diperbolehkan kembali berlayar.

    Pasien terbaru adalah seorang anak usia dua tahun warga Teluk Gong, Jakarta. Balita ini baru kembali dari Korea Selatan bersama keluarganya. Dia dibawa ke RS Sulianti Saroso juga karena demam tinggi. "Ternyata dia terkena pneumonia bukan MERS," kata Subuh.

    Walau belum ada temuan positif MERS di Indonesia, Kementerian Kesehatan tetap melakukan langka antisipasi maksimal. Alasannya, ujar Subuh, Indonesia beresiko tinggi terjangkit MERS karena tingginya jumlah WNI yang ke Arab Saudi untuk umroh, naik haji, atau menjadi TKI.

    MERS pertama kali merebak di Arab Saudi pada September 2012 lalu. Virus ini kemudian menyebar ke negara-negara Arab lainnya. Hingga saat ini, total ada 27 negara yang telah terjangkit MERS. Korea Selatan adalah negara dengan temuan jumlah kasus terbesar di luar jazirah Arab. Thailand menjadi negara terakhir yang masuk daftar setelah ditemukan seorang pasien positif MERS asal Oman pekan lalu.

    MOYANG KASIH DEWIMERDEKA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.