Kelaparan di NTT Meluas, Bantuan Mulai Mengalir  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.COJakarta - Bencana kelaparan yang dialami warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), kian meluas. Kelaparan yang awalnya hanya melanda lima desa kini menjadi tujuh desa di dua kecamatan di daerah itu. Bantuan bagi ribuan warga yang menjadi korban kelaparan pun mulai mengalir.

    Dua kecamatan yang dilanda kelaparan itu adalah Kecamatan Kualin, meliputi Desa Kualin, Toineke, Tuafanu, Tuapakas, dan Oni, serta Kecamatan Amanuban Selatan, meliputi Desa Oebelo dan Noemuke.

    Pantauan Tempo, kondisi di dua desa yang dilanda kelaparan di TTS terlihat sangat memprihatinkan. Bahkan kesediaan stok makanan yang mulai habis menyebabkan warga harus makan putak (pakan ternak), seperti warga di Desa Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan.

    "Setiap hari, kami terpaksa makan putak karena gagal panen," kata Yohana Neonmatus, warga Desa Oebelo, kepada Tempo, Kamis, 25 Juni 2015. Putak merupakan makanan alternatif warga setempat jika mengalami gagal panen akibat rendahnya curah hujan. 

    Bencana kelaparan yang melanda wilayah ini mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa telah turun untuk memberikan bantuan kepada warga korban kelaparan.

    Bantuan lain datang dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat asal daerah pemilihan NTT, Herman Heri, yang menyumbang 2 ton beras dan 25 kardus mi instan. "Bantuan ini merupakan bentuk perhatian DPR atas masalah yang dihadapi masyarakat di NTT," ujar Herman Heri.

    Dia berharap bantuan yang diberikan ini dapat meringankan beban masyarakat yang mengalami bencana tersebut. "Sudah kewajiban kami memberikan bantuan kepada warga yang mengalami bencana," tuturnya. 

    YOHANES SEO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.