Awas, Copet dan Ahli Hipnotis Beraksi Menjelang Lebaran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi copet. protothema.gr

    Ilustrasi copet. protothema.gr

    TEMPO.CO, Trenggalek -Kepolisian Resor Trenggalek dan Kediri disiagakan memberantas copet dan pelaku gendam alias hipnotis yang marak menjelang lebaran. Masyarakat diminta menyimpan perhiasan dan uang lebih di rumah saat berbelanja di pasar.

    “Sebisa mungkin jangan memakai perhiasan kalau ke pasar,” kata Kepala Kepolisian Resor Trenggalek Ajun Komisaris Besar I Made Agus Prasatya saat melakukan pemeriksaan keamanan di Pasar Pon Trenggalek, Rabu 24 Juni 2015.

    Maraknya tindak kejahatan menjelang lebaran menjadi perhatian serius aparat kepolisian Trenggalek yang menerjunkan petugas di pasar tradisional dan toko emas. Para pelaku kejahatan kerap mengincar pembeli yang membawa perhiasan mencolok maupun tas jinjing.

    Selain menerjunkan personel di tempat-tempat ramai, Agus juga mengingatkan langsung pengunjung pasar yang berpotensi menjadi korban pencopetan. Demikian pula para pedagang pasar diminta mengenali situasi di lingkungan mereka agar bisa mengidentifikasi kejangalan yang muncul.

    Ketika menemukan orang asing yang gerak-geriknya mencurigakan mereka diminta melapor kepada polisi yang berjaga. “Biasanya yang marak aksi pencopetan,” kata Made.

    Peningkatan keamanan juga dilakukan di kawasan pertokoan emas di Jalan Dewi Sartika. Jenis usaha ini paling banyak diincar pelaku kejahatan khususnya menjelang lebaran.  Kepada pemilik toko, Agus meminta memasang CCTV untuk memantau pergerakan pengunjung. Khusus di tempat ini sejumlah polisi bersenjata lengkap disiagakan secara penuh.

    Selain aksi copet di Trenggalek, pelaku gendam juga mulai beraksi di wilayah Kediri. Beberapa warga mengaku menjadi korban gendam yang mengincar perhiasan dan uang di jalan. Berbeda dengan aksi copet yang bisa diredam dengan menyimpan dompet rapat-rapat, aksi gendam lebih sulit ditangkal karena melibatkan alam sadar korban.

    Sujinem, 60, warga Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto yang pernah menjadi korban gendam di atas angkutan umum. Dia masih bisa mengingat saat menjadi penumpang perempuan sendirian bersama kernet, sopir, dan seorang pria yang duduk di kursi penumpang.

    “Setelah bersalaman, dia meminta saya melepas perhiasan dan menukarnya dengan bungkusan kain putih,” katanya yang baru menyadari setelah turun dari angkutan.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.