Pesaing Risma: Ahok Menginspirasi Kami, Jadi Jangan Takut!

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, menerima sajian Lontong Balap, kuliner khas Surabaya saat membuka Festival Kampung Lawas di kawasan Maspati gang 5 dan 6, Surabaya, 26 Mei 2015. Pemkot Surabaya membuat pelestarian kawasan kawasan kota tua sebagai salah satu aset wisata cagar budaya di Surabaya. FULLY SYAFI

    Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, menerima sajian Lontong Balap, kuliner khas Surabaya saat membuka Festival Kampung Lawas di kawasan Maspati gang 5 dan 6, Surabaya, 26 Mei 2015. Pemkot Surabaya membuat pelestarian kawasan kawasan kota tua sebagai salah satu aset wisata cagar budaya di Surabaya. FULLY SYAFI

    TEMPO.COJakarta - Wacana pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya dengan asas musyawarah mufakat atau aklamasi menuai tanggapan dari salah satu pesaing Risma. Dia adalah Anthony Bachtiar yang mendaftarkan diri sebagai calon Wali Kota Surabaya dari Partai Gerindra dan Partai Demokrat. Ia menganggap wacana aklamasi itu sebagai bentuk ketakutan PDIP sebelum bertarung pada pemilihan 9 Desember mendatang. 

    “Wacana aklamasi yang dilontarkan PDIP tentu merupakan wujud ketakutannya sebelum bertarung,” kata Anthony kepada wartawan, Rabu, 24 Juni 2015.

    Selain itu, wacana aklamasi itu tidak diatur dalam undang-undang, sehingga dia menganggap wacana tersebut tidak akan pernah terjadi di Kota Surabaya. “Apalagi hingga saat ini saya sudah siap melawan Risma,” ujarnya.

    Ketua Persatuan Tionghoa Indonesia Raya (Petir) ini mengaku telah mengantongi massa yang riil untuk melawan pasangan Risma-Whisnu. Massa itu berasal dari etnis Tionghoa dan umat Katolik yang jumlahnya sangat signifikan di Kota Surabaya. Dengan demikian, Anthony merasa yakin akan mengalahkan popularitas Risma dalam pemilihan kepala daerah mendatang. 

    "Latar belakang saya jelas dari komunitas etnis Tionghoa. Kita buktikan saja nanti di pilkada,” tuturnya.

    Menurut Anthony, keikutsertaannya dalam pesta demokrasi Kota Surabaya itu terinspirasi sosok Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang sukses menjadi Gubernur DKI Jakarta. Padahal Ahok berasal dari etnis Tionghoa, tapi banyak didukung masyarakat. 

    “Pak Ahok adalah inspirasi kami yang sukses memimpin Kota Jakarta menjadi lebih baik,” ucapnya.

    Dari inspirasi itu, dia menganggap bahwa di Surabaya tidak ada salahnya apabila memunculkan sosok yang hampir sama dengan Ahok, yakni berasal dari etnis Tionghoa. “Saya kira sangat cocok apabila Surabaya memunculkan pemimpin selevel Ahok,” katanya.

    Sebelumnya, pasangan Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana kian banter didengungkan menjadi pasangan calon yang berasaskan musyawarah mufakat atau aklamasi. Wacana itu tampak jelas ketika Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDIP Surabaya Whisnu Sakti Buana mengumpulkan pemimpin partai politik di rumah dinasnya untuk membahas pemilihan Wali Kota Surabaya. Wacana yang baru digagas itu akan diajukan oleh pemimpin parpol ke dewan pimpinan pusat masing-masing. Namun ternyata banyak parpol yang menolaknya.

    MOHAMMAD SYARRAFAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.