Warga Karanganyar yang Dihajar Martil Akhirnya Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi pemukulan. tbo.com

    ilustrasi pemukulan. tbo.com

    TEMPO.CO, Karanganyar - Seorang warga Karanganyar, Teguh Purwanto, akhirnya tewas setelah kepalanya dihajar oleh tetangganya sendiri dengan martil besi, Kamis, 18 Juni 2015. Dia sempat dirawat selama beberapa jam di PKU Muhammadiyah Papahan. Namun, jiwanya tidak dapat tertolong lantaran luka di kepalanya sangat parah.

    Warga yang tinggal di Kelurahan Jungke, Kecamatan Karanganyar, itu dianiaya oleh tetangganya, Imam Pramuji. "Saat ini pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka dan sudah ditahan," kata Wakil Kepala Kepolisian Resor Karanganyar Komisaris Rudi Hartono saat ditemui, Kamis petang.

    Rudi menjelaskan antara korban dan pelaku sudah terlibat cekcok sejak beberapa hari lalu. "Anak korban yang masih berusia dua tahun dianggap mengganggu pelaku yang sedang bekerja membuat gerobak. Pelaku pun mencaci maki anak kecil itu," katanya.

    Melihat anaknya dibentak-bentak, korban emosi hingga menantang pelaku untuk berkelahi. "Rumah mereka memang cukup dekat, bahkan berhadap-hadapan," kata Rudi. Hanya saja, saat itu pelaku tidak meladeni tantangan tersebut.

    Namun rupanya pelaku masih menyimpan dendam kepada Teguh. Pada Kamis pagi, dia menyusup masuk ke rumah korban. Imam menemukan korban yang masih tidur di kamar. "Pelaku lantas memukul kepala korban dengan martil sebanyak tiga kali," katanya sembari menunjukkan martil besi seukuran kepalan tangan.

    Seusai melakukan aksinya, pelaku lantas mengambil sepeda kayuh dan pergi ke kantor polisi untuk menyerahkan diri. Sedangkan korban yang dalam kondisi kritis dilarikan ke rumah sakit oleh keluarganya. "Korban dinyatakan meninggal tadi siang sekitar pukul 14.30 WIB," kata Rudi.

    Polisi menetapkan Imam sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Imam terjerat Pasal 351 ayat 3 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengenai penganiayaan hingga menyebabkan kematian. "Tersangka terancam hukuman pidana penjara hingga maksimal tujuh tahun," kata Rudi.

    Polisi sempat menunjukkan tersangka beserta alat bukti yang digunakan dalam menjalankan aksinya kepada wartawan. Namun pria bertubuh kecil itu memilih menutupi wajahnya dengan topi tanpa mau mengucapkan sepatah kata pun.

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Kartel Harga Tiket Pesawat Siap Disidangkan

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha menduga mahalnya harga tiket pesawat disebabkan pasar oligopolistik. Citilink dan Lion Air diduga terlibat.