Puasa, Warung Makan di Daerah Ini Dijaga Satpol PP  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pintu dan jendela warung tegal Doa Ibu ditutupi tirai di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (22/7). Warteg tersebut tetap buka melayani konsumen walaupun pemerintah kota Tangerang Selatan telah melakukan pengawasan selama bulan puasa sesuai surat edaran Wali Kota dan MUI Kota Tangsel mengenai jam operasional tempat hiburan malam dan rumah makan Nomor 450/227-Budpar/2012 dan Nomor 09/SM/MUI-Tangsel/VII/2012. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Pintu dan jendela warung tegal Doa Ibu ditutupi tirai di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (22/7). Warteg tersebut tetap buka melayani konsumen walaupun pemerintah kota Tangerang Selatan telah melakukan pengawasan selama bulan puasa sesuai surat edaran Wali Kota dan MUI Kota Tangsel mengenai jam operasional tempat hiburan malam dan rumah makan Nomor 450/227-Budpar/2012 dan Nomor 09/SM/MUI-Tangsel/VII/2012. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.COPurwakarta - Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tak melarang rumah makan berjualan sepanjang bulan Ramadan. Namun dia menetapkan sejumlah syarat.

    Syarat pertama adalah yang umum berlaku di banyak daerah dan rumah makan, yakni bagian depan rumah makan ditutup kain dengan rapi. Syarat kedua, setiap rumah makan yang buka hanya boleh menerima konsumen dari delapan asnaf atau golongan. "Luar dari itu, haram hukumnya untuk dilayani," kata Dedi, Kamis, 18 Juni 2015.

    Kedelapan golongan yang dimaksud Dedi adalah warga yang nonmuslim, orang yang dalam perjalanan (musafir), dan mereka yang karena beban pekerjaan tidak memungkinkan untuk berpuasa. 

    Selanjutnya, ada golongan orang sakit yang karena penyakitnya itu terpaksa membuat dia tidak berpuasa. Perempuan yang sedang menstruasi, hamil, nifas, atau menyusui termasuk golongan yang bisa memasuki rumah makan. 

    Berikutnya, anak-anak yang belum memasuki masa akil balig. "Dan yang terakhir golongan orang gila," ujar Dedi.

    Menurut Dedi, golongan yang terakhir itu dibuatnya untuk pria muslim yang siang-siang masuk rumah makan. Dia menyatakan akan menginstruksikan setiap rumah makan yang buka tersebut dijaga hingga seratus anggota Satpol PP. Tugasnya, menanyai setiap calon konsumen yang mendatangi rumah makan. Kalau tidak termasuk dalam delapan golongan yang disyaratkan, calon konsumen itu harus diusir. 

    "Tapi, kalau kemudian mendapati pria muslim siang-siang masuk rumah makan dan tak bisa dilarang, dia termasuk golongan kedelapan (orang gila)," tuturnya.

    Jaya Pranolo, seorang pejabat di kantor Satpol PP Kabupaten Purwakarta, menyatakan siap menjalankan perintah bupatinya tersebut. "Namanya kebijakan atasan, apa pun bentuknya, harus tetap dijaga dan diamankan," ucap Jaya. 

    NANANG SUTINA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.