Ratusan Motor Curian Disita dari Dua Pegadaian di Malang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi begal motor. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    Ilustrasi begal motor. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    TEMPO.COMalang - Sebanyak 311 sepeda motor berbagai jenis dipamerkan di halaman Markas Kepolisian Resor Malang di Kecamatan Kapanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sejak awal pekan lalu. Mulai Rabu siang, 17 Juni 2015, polisi mempersilakan kepada seluruh masyarakat yang kehilangan sepeda motor untuk mengecek. Jika sepeda motornya ada di Mapolres, pemilik bisa mengambil dengan membawa buku pemilik kendaraan bermotor dan surat tanda nomor kendaraan (STNK). 

    “Semuanya adalah sepeda motor sitaan,” kata Kepala Polres Malang Ajun Komisaris Besar Aris Haryanto, Rabu sore. Kendaraan itu disita dari dua lokasi di Kabupaten Malang pada Sabtu, 13 Juni 2015. 

    Dari semua kendaraan sitaan tersebut, 223 sepeda motor disita dari tempat pegadaian milik Tongan Napitupulu di Jalan Raya Semeru, Kelurahan Dampit, Kecamatan Dampit, dan 88 sisanya dari gudang pegadaian milik Daud Napitupulu di Desa Wajak, Kecamatan Wajak. Dua tempat pegadaian ilegal itu sudah beroperasi selama 15 tahun.

    Polisi sudah memeriksa Tongan dan dua tersangka lain. Tongan disangka sebagai penadah. Sedangkan Daud masih diperiksa. Polisi pun masih memburu pelaku yang kabur. Menurut dia, dua tempat gadai sepeda motor itu ilegal dan diduga menjadi tempat tadahan sepeda motor hasil kejahatan.

    “Kami resmi menahan ketiga tersangka, satu di antaranya seorang penadah berkedok pemilik gadai motor,” ucap Aris. Polisi menelusuri riwayat semua sepeda motor untuk bisa diserahkan kepada pemiliknya.

    Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Malang Ajun Komisaris Wahyu Hidayat menuturkan praktek gadai ilegal di Wajak dan Dampit itu terungkap saat tim buru sergap yang sedang berpatroli menghentikan dua pria mencurigakan yang mengendarai sepeda motor, Jumat malam, 12 Juni. 

    Polisi menghentikan Wiwit. Kaki Wiwit ditembak karena berusaha kabur. Sedangkan EK, rekan Wiwit, berhasil kabur dari hadangan polisi. Saat diperiksa, Wiwit membawa senjata tajam berupa parang, celurit, dan kunci leter-T. 

    Sebagai begal, Wiwit sering mencuri sepeda motor yang jauh dari pengawasan dengan cara menjebol kunci menggunakan kunci leter-T. Ia juga kerap merampas sepeda motor di jalanan wilayah selatan Kabupaten Malang. Wiwit mengaku sepeda motor hasil curian dan rampasannya digadaikan ke Tongan dan Daud. Sepeda motor yang digadaikan kadang tanpa STNK dan identitas pengaju gadai berbeda, bukan Wiwit langsung. Tapi tetap saja Tongan dan Daud menerimanya.

    “Tersangka WT mengaku mendapat uang dari hasil gadai mulai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta,” kata Wahyu. Uang hasil gadai dibagikan kepada temannya, EK, yang sekarang buron.

    Berbekal pengakuan Wiwit, polisi menggerebek tempat gadai Tongan dan Daud. Tongan ditangkap bersama Sahir, pegawainya. Polisi menduga para pelaku merupakan sindikat pencurian dan penggelapan sepeda motor besar yang melibatkan sejumlah penagih utang alias debt collector dan petugas perusahaan pembiayaan (leasing) yang jahat, sehingga polisi terus mendalami dan mengembangkan kasus itu.

    Tongan dan Daud disangka menerapkan praktek gadai yang menyalahi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Ancamannya minimal 5 tahun dan paling lama 15 tahun penjara serta denda minimal Rp 10 miliar dan maksimal Rp 200 miliar. 

    Sedangkan tersangka Wiwit dan Sahir disangka melanggar pasal pencurian disertai kekerasan dan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 karena kedapatan membawa senjata tajam.

    ABDI PURMONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.