Jawa Barat Waspadai Peredaran Daging Celeng

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka pengoplos daging sapi dan celeng diamankan di Mapolrestabes Bandung, 13 Februari 2015. TEMPO/Prima Mulia

    Tersangka pengoplos daging sapi dan celeng diamankan di Mapolrestabes Bandung, 13 Februari 2015. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat Doddy Firman Nugraha mengatakan, sudah mengirim surat edaran pada semua kabupaten/kota di wilayahnya untuk mewaspadai perdagangan daging celeng. “Saya sudah perintahkan, sekalipun belum ada informasi munculnya daging celeng di Jawa Barat,” kata dia saat dihubungi Tempo, Rabu, 17 Juni 2015.

    Doddy mengatakan, perintah itu menindaklanjuti Surat Edaran Direktorat Jenderal Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian yang meminta daerah mewaspadai peredaran daging celeng. “Sudah ada edaran dari Direktorat Jenderal untuk kewaspadaan dan kehati-hatian” kata dia.

    Menurut Doddy, wilayahnya mewaspadai perdagangan daging celeng itu karena sejumlah kasus sempat terungkap di Jawa Barat. Terakhir dua bulan lalu, pihak kepolisian membongkar perdagangan daging celeng di Bekasi. “Dari Sumatera di tangkap di Bekasi, kemudian di beberapa kota di sekitar itu. Kurang lebih dua bulan lalu,” kata dia.

    Doddy mengatakan, dalam waktu dekat akan menerjunkan tim khusus yang akan bergerak diam-diam mengecek sejumlah pasar tradisional di Jawa Barat. Selain memeriksa kemungkinan peredaran daging celeng, juga kualitas daging yang diperdagangkan. “Kita antisipasi kekhawatiran penyakit terkait daging sapi dan daging ayam. Mudah-mudahan tidak ada kasus,” kata dia.

    Menurut Doddy, peningkatan konsumsi daging menjelang puasa juga khawatir dimanfaatkan untuk peredaran daging celeng. “Konsumen agar mempertimbangkan seandainya melihat atau mendengar, ada produk daging yang diperdagangkan dengan harga murah itu patut dicurigai,” kata dia.

    Dia mencontohkan, saat ini misalnya harga daging sapi sudah di atas Rp 90 ribuan. “Seandainya ada yang menjual di bawah harga itu, harus diwaspadai,” kata Doddy.

    Menurut Doddy, kasat mata sulit membedakan antara daging celeng dan daging sapi. Kendati demikian, jika jeli tetap bisa dibedakan. Diantaranya, warna daging celeng lebih tua dibanding daging sapi, serta baunya lebih menyengat. “Bagi yang belum paham terlihat sama, bahkan menyerupai daging kerbau karena warnanya lebih tua. Yang jelas baunya menyengat, bukan bau seperti daging sapi,” kata dia.

    Dia menghimbau masyarakat untuk membeli produk daging di tempat langganannya. “Jangan membeli ke sembarangan, apalagi ke pedagang yang biasanya bukan penjual daging,” kata Doddy. Modus penjualan daging celeng yang terungkap sebelumnya, diperdagangkan oleh pedagang baru yang biasanya tidak menjual daging.

    Doddy mengatakan, menjelang puasa dan Lebaran, stok daging sapi dan ayam mencukupi. Daging sapi misalnya, kendati mayoritas bergantung pasokan dari daerah di luar Jawa Barat, data suplai masih aman sampai Lebaran. “Kalau daging ayam, Jawa Barat produsen utamanya,” kata dia.

    Dia memaklumi jika harga daging sapi dan ayam naik menjelang puasa karena meningkatnya permintaan. “Biasanya antara 15 persen sampai 20 persen, kenaiakannya masih batas wajar, tapi di atas itu harus hati-hati, ada apa ini?” kata dia.

    Harga yang jadi patokan, harga rata-rata normal sebelum puasa. Daging sapi misalnya, sebelum puasa harga rata-rata berkisara antara Rp 90 ribu hingga Rp 95 ribu per kilogram. “Minggu pertama puasa biasanya harga naik, minggu kedua turun sedikit. Dan minggu ketiga naik lagi sampai akhir Lebaran,” kata Doddy.

    Sebelumnya, peredaran daging celeng terungkap di Malang setelah polisi menangkap pasangan suami-istri, SKT, 49 tahun dan BN, 47 tahun, warga Jalan Kolonel Sugiono Gangg VII, Malang, 15 Juni 2015. Keduanya menjual daging celeng di Pasar Kedungkandang, Malang. Pelaku dijerat Pasal 62 juncto Pasal 8 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1992 tentang perlindungan konsumen, dan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan. Ancaman hukumannya lima tahun penjara.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Memberangkatkan 529 Kloter pada Musim Haji 2019

    Pada musim haji 2019, Indonesia memberangkatkan 529 kelompok terbang, populer disebut kloter, yang akan dibagi dalam dua gelombang.