Budayawan: Borobudur Perlu Dijaga Dimensi Spritualnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengunjung menyaksikan patung Budha di halaman candi Borobudur Magelang, 30 Mei 2015. Patung Budha tersebut akan ditempatkan di altar utama pada perayaan Tri Suci Waisak 2559 BE/2015. ANTARA/Anis Efizudin

    Sejumlah pengunjung menyaksikan patung Budha di halaman candi Borobudur Magelang, 30 Mei 2015. Patung Budha tersebut akan ditempatkan di altar utama pada perayaan Tri Suci Waisak 2559 BE/2015. ANTARA/Anis Efizudin

    TEMPO.CO , Yogyakarta:  Budayawan yang juga mantan Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta, Komaruddin Hidayat mengatakan  masyarakat saintifik modern membutuhkan wisata yang lekat dengan nilai spiritualitas.

    Komar yang telah berkeliling ke banyak negara untuk belajar masalah kebudayaan dan pengembangan keagamaan, mengatakan Indonesia punya tempat-tempat wisata yang kaya dimensi spiritual. Dia mencontohkan Bali yang mampu memadukan wisata alam, seni, budaya, dan masyarakat.

    Ada juga Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. “Borobudur perlu dijaga dimensi spiritualnya,” katanya  dalam seminar nasional pariwisata bertema Pengelolaan Berkelanjutan Pariwisata Budaya di The Kasultanan Royal Ambarrukmo Plaza Yogyakarta, Selasa, 16 Juni 2015.

    Menurut dia, negara kawasan Eropa selama ini menjaga nilai-nilai spiritualnya itu. Mereka menggarap obyek pariwisata yang bernilai spiritual secara serius. Bangunan gereja misalnya dijaga keasliannya, kekunoannya, dan keunikannya. Mereka mengelola pariwisata secara profesional dan modern.

    Komar mencontohkan pemandu wisata di banyak negara yang ia kunjungi menguasai sejarah agama. Pemandu yang beragama Katolik misalnya punya pengetahuan yang baik tentang agama Islam. Sebaliknya, banyak pemandu yang beragama Islam berpengetahuan tentang agama Katolik.

    Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Laily Prihatiningtyas, menyatakan perlu revitalisasi terhadap nilai-nilai yang ada pada Candi Borobudur. Ini penting untuk membuat orang mengerti Borobudur dengan baik. “Borobudur tidak terlepas dari nilai dan bersifat magis. Narasi yang bagus untuk menjelaskannya sangat perlu,” kata Laily.

    Ia mengatakan pengelolaan pariwisata berkelanjutan perlu terus menggandeng masyarakat lokal. Mereka perlu terlibat langsung menjaga dan melestarikan nilai-nilai yang ada pada Borobudur. Ini sebagai konservasi nilai oleh masyarakat. Jadi konservasi Borobudur tidak hanya berbentuk fisik semata.

    SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.