Iklan Rokok Serbu Lingkungan Sekolah Anak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bahaya rokok. (acehonline)

    Ilustrasi bahaya rokok. (acehonline)

    TEMPO.COJakarta - Lentera Anak Indonesia (LAI), Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), dan Free Smoke Agents (FSA) melaporkan hasil penelitiannya yang menemukan iklan rokok menyerbu lingkungan di sekitar sekolah. Temuan ini didapat melalui pemantauan di lima kota, yaitu Jakarta, Bandung, Makassar, Mataram, dan Padang. 

    “Temuan ini menunjukkan bahwa iklan rokok merajalela di sekitar sekolah,” kata Hasna Pradityas, perwakilan dari Smoke Free Agents, melalui rilisnya kepada media, Selasa, 16 Juni 2015. Ia menyampaikan, dalam pemantauan yang dilakukan ketiga lembaga tersebut, ditemukan bahwa lokasi-lokasi—seperti di dekat gerbang sekolah, dekat pagar sekolah, di seberang sekolah dalam jangkauan pandang, dan warung-warung sekitar sekolah—menjadi tempat para perusahaan rokok memasarkan produk rokoknya ke lingkungan anak.

    Pemantauan ini menemukan bahwa penempatan iklan dan promosi rokok di tempat penjualan terjadi di 85 persen sekolah yang dipantau. Juga, ditemukan display rokok di tempat penjualan di hampir 70 persen sekolah yang dipantau.

    Ketiga lembaga itu juga mendapati promosi harga rokok ditemukan di lebih dari setengah jumlah total sekolah yang dipantau. Selain itu, ditemukan iklan rokok di media luar griya, terutama billboard, di setiap satu dari tiga sekolah yang dipantau. 

    Berbagai bukti foto menunjukkan tempat iklan dan promosi rokok berlokasi terlalu dekat dengan lingkungan sekolah anak. “Bukti ini menunjukkan anak-anak di sekolah terpapar iklan rokok setiap hari,” ujarnya.

    Hasil pemantauan ketiga lembaga tersebut juga menunjukkan industri rokok raksasa menempatkan iklan rokok secara besar-besaran di sekitar 360 sekolah yang diamati di lima kota itu. Temuan ini menduga pemasangan iklan di sekitar sekolah dilatarbelakangi kebutuhan industri rokok untuk mendapatkan perokok baru sebagai perokok pengganti. 

    “Secara berkala, industri kehilangan pelanggan setia karena perokok memutuskan berhenti ataupun karena meninggal akibat rokok. Karena itu, industri rokok membangun strategi kampanye dengan memasarkan produk kepada kelompok masyarakat tertentu, seperti anak dan perempuan,” tutur Hasna.

    Peneliti dan dosen di Departemen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Dr Hendriyani, mengatakan hasil pemantauan ini membuktikan bahwa industri rokok secara agresif menempatkan iklan rokok di tempat yang dilewati anak-anak sekolah setiap hari, bahkan dilakukan di tempat anak-anak berkumpul bersama teman sebayanya. 

    MAYA NAWANGWULAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.