Kabupaten Kebumen Mulai Kesulitan Air Bersih  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penggembala tengah mengembala ternaknya di areal sawah yang gagal panen akibat kemarau di daerah Babelan, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/9). TEMPO/Tony Hartawan

    Penggembala tengah mengembala ternaknya di areal sawah yang gagal panen akibat kemarau di daerah Babelan, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/9). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.COKebumen - Puluhan desa di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, mengalami kesulitan air bersih menjelang musim kemarau ini. “Sebagian mata air di wilayah pegunungan debitnya mulai berkurang,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen Eko Widianto, Selasa, 16 Juni 2015.

    Menurut Eko, lembaganya akan melakukan langkah-langkah antisipasi menghadapi musim kemarau nanti. “Di antaranya dengan mendistribusikan bantuan air bersih kepada masyarakat yang masuk data status darurat kekeringan,” katanya.

    Pada tahun ini, BPBD Kebumen mengalokasikan bantuan air bersih sebanyak 1.268 tangki. Setiap tangki berisi 5.000 liter. Mengantisipasi kesulitan air bersih tersebut, BPBD Kebumen juga sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp 250 juta melalui APBD Kebumen tahun 2015. “Anggaran sebesar itu untuk droping air bersih sebanyak 1.268 tangki,” ujar Eko.

    Eko mengatakan realisasi droping air bersih pada musim kemarau 2014 mencapai 1.623 tangki. BPBD kemudian mengusulkan tambahan 788 tangki dengan anggaran Rp 150 juta melalui APBD Perubahan. Dengan demikian, untuk 2015, BPBD Kebumen secara keseluruhan telah menyiapkan 2.056 tangki air bersih.

    Nantinya, tutur Eko, air bersih tersebut akan didistribusikan ke desa-desa yang mengalami kesulitan air bersih pada musim kemarau. Eko memprediksi warga akan mulai mengalami kesulitan air bersih pada Juli mendatang.

    Namun pihaknya sudah siap mengirimkan bantuan tersebut jika ada permintaan pada pada Juni ini. “BPBD sudah siap melakukan droping karena memang sudah diantisipasi,” tuturnya.

    Data BPBD Kebumen pada 2014, ada 84 desa yang mengalami kekurangan air bersih. Namun, pada tahun 2015 ini, desa yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih cenderung menurun, hanya 77 desa di 16 kecamatan yang diduga bakal mengalami rawan air bersih.

    Penyebab berkurangnya jumlah desa rawan air bersih karena program pipanisasi di sejumlah wilayah telah selesai. Dengan demikian, warga sudah dapat menikmati kebutuhan air bersih setiap saat.

    Adapun 77 desa rawan kekeringan itu meliputi wilayah Kecamatan Ayah, Kecamatan Sempor 10, Pejagoan, Alian, Sruweng, Karangsambung, Poncowarno, Padureso, Rowokele, Kebumen, dan Buayan. Selain itu, sejumlah desa di Kecamatan Karanggayam, Karangganyar, Kecamatan Prembun, Adimulyo, dan Kutowinangun.

    ARIS ANDRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.