Kisah Douglas, Ayah Angeline: Sahabat Baik dan Kematiannya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hamidah dan Rosidik, kedua orang tua kandung Angeline usai menjalani tes DNA di depan kamar jenazah Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Bali, 12 Juni 2015. Kedua orang tua Angeline menjalani pemeriksaan DNA sebelum jenazah dipulangkan ke rumah orang tuanya di Banyuwangi, Jawa Timur. TEMPO/Johannes P. Christo

    Hamidah dan Rosidik, kedua orang tua kandung Angeline usai menjalani tes DNA di depan kamar jenazah Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Bali, 12 Juni 2015. Kedua orang tua Angeline menjalani pemeriksaan DNA sebelum jenazah dipulangkan ke rumah orang tuanya di Banyuwangi, Jawa Timur. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Sebelum tinggal di Bali, Margriet Christina Megawe, ibu angkat bocah malang Angeline, pernah tinggal di Pekanbaru sekiTAR 15 tahun lalu. Pada awal 2000-an, Margriet dan keluarganya menempati sebuah rumah di Jalan Garuda, RT 01 RW 06 Kelurahan Labuh Baru Timur, Pekanbaru.

    "Mereka beli rumah paman suami saya," kata Dementria Tinambunan, warga setempat, saat ditemui Tempo, Senin, 15 Juni 2015. Dementria bercerita, sebelum membeli rumah itu, Margriet tinggal di kompleks perumahan milik perusahaan minyak Amerika di Rumbai, Pekanbaru. Suaminya bernama Douglas Scarborough, pria bule asal Amerika. "Mereka beli rumah ini alasannya bosan tinggal di kompleks perusahaan," ujar Dementria.

    Menurut dia, Margriet memiliki dua anak perempuan bernama Yvone dan Christina. Sebelum menikah dengan Douglas, Margriet memiliki suami yang juga warga Amerika. Dari suami pertama, Margriet memiliki anak bernama Yvone. Sedangkan Christina merupakan anak kandung Douglas bersama Margriet. "Tapi mereka harmonis. Yvone dulu juga sering ke sini," katanya.

    Lalu, pada 2007, Margriet dan keluarganya pindah ke Jakarta karena Douglas memasuki masa pensiun. Beberapa tahun kemudian, kata Dementria, Margriet pindah ke Bali. Di Pulau Dewata dia menjalankan usaha penginapan. Pada 2013, Douglas meninggal dunia. "Suaminya meninggal karena stroke," tuturnya.

    Sahahat Sang Ayah
    Adapun sahabat ayah angkat Angeline, Pontas Napitulu, menyatakan turut prihatin atas peristiwa yang dialami keluarga Margriet Christina Megawe, istri Douglas yang saat ini ramai diperbincangkan di media massa. Pontas mengatakan Douglas adalah sahabat yang baik.

    Pontas mengatakan berkenalan dengan Douglas saat dia menjadi rekanan perusahaan Douglas dalam pengeboran minyak di Riau beberapa tahun lalu. Dia mengatakan Douglas merupakan konsultan perminyakan di perusahaan pengeboran minyak PT Sistem Vibro Indonesia.

    Douglas pernah bertugas di Riau sekitar lima tahun. Di perusahaan tersebut, Douglas bertugas mengawasi pengeboran minyak di PT Caltex. “Dia pengawas kami, sekaligus sahabat yang baik,” kata Pontas saat dihubungi Tempo, Senin, 15 Juni 2015.

    Pontas menerangkan, saat perusahaannya menjadi kontraktor pengeboran minyak di PT Caltek, Riau, dia menjadi mitra kerja Douglas dalam penembakan data seismik. Douglas merupakan ahli eksplorasi yang diminta PT Caltex melalui PT Sistem Vibro Indonesia untuk mengawasi kerja perusahaan kontraktor dalam pengeboran minyak di Caltex. “Dia yang mengawasi kerja kami,” ujar Pontas.

    Pontas mengenal Douglas sebagai orang yang baik dan ramah terhadap rekan kerjanya. Bahkan, kata Pontas, meskipun kontrak kerjanya telah habis, Douglas masih tetap menjalin silaturahmi dengan dia sekeluarga.

    Persahabatan Pontas dengan Douglas terjalin baik hingga ke anak-anak mereka. Anak Douglas, Christina, kata Pontas, bersahabat baik dengan anaknya, Pascal. “Hubungan keluarga kami sangat baik,” ujarnya.

    Pontas mengajak masyarakat menanggapi kasus Angeline dengan adil tanpa membuat opini publik yang menyudutkan seseorang. “Biarlah polisi yang menangani secara jernih,” kata pengusaha yang kini aktif di kegiatan sosial itu.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Enam Poin dalam Visi Indonesia, Jokowi tak Sebut HAM dan Hukum

    Presiden terpilih Joko Widodo menyampaikan sejumlah poin Visi Indonesia di SICC, 14 Juli 2019. Namun isi pidato itu tak menyebut soal hukum dan HAM.