Darurat, PNS Diminta Borong Sarung Majalaya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyetrika dan melipat sarung yang telah disortir dan siap untuk dikirim di industri sarung tenun di kawasan kecamatan Lawang, Malang, Jawa Timur, 11 Juni 2015. Sarung-sarung tersebut akan dikirim ke Surabaya, Pekalongan, dan Kalimantan. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Pekerja menyetrika dan melipat sarung yang telah disortir dan siap untuk dikirim di industri sarung tenun di kawasan kecamatan Lawang, Malang, Jawa Timur, 11 Juni 2015. Sarung-sarung tersebut akan dikirim ke Surabaya, Pekalongan, dan Kalimantan. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO , Bandung : Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Ferry Sofwan Arif mengatakan, pegawai negeri diminta membeli sarung produk Majalaya, Kabupaten Bandung. “Itu solusi jangka pendek untuk menyelamatkan bisnis teman-teman pengrajin,” kata dia saat dihubungi Tempo, Senin, 15 Juni 2015.

    Ferry mengaku, dinasnya diminta gubernur untuk mencari solusi menyelematkan pengrajin sarung Majalaya yang bisnisya tergerus akibat penjualannya anjlok. “Solusi jangka pendek, kami akan menawari semua OPD (Organisasi Pemerintah Daerah) membeli sarung,” kata dia.

    Menurut Ferry, sejumlah pengrajin sarung Majalaya berhenti produksi karena stok sarungnya menumpuk sejak awal tahun ini. “Yang besar ada yang menyimpan lebih dari 30 ribu kodi, yang kecil antara 7 ribu sampai 8 ribu kodi,” kata dia. Situasi penjualan sarung Majalaya masih lesu kendati hampir memasuki Ramadhan. “Biasanya dua hingga tiga bulan jelang Ramadhan sudah banyak pesanan ke Pasar Tanah Abang, Pasar Tegalgubug Cirebon, atau Pasar Turi di Surabaya.”

    Ferry mengatakan, solusi jangka pendek dipilih dengan membantu mencarikan pembeli sarung Majalaya. “Pokoknya asal ada penjualan, berapapun jumlahnya. Kami sudah mulai dengan teman-teman di kantor menawarkan untuk kado Lebaran. Tapi secara resmi kami akan menyurati teman-teman OPD, atas saran gubernur untuk membeli sarung Majalaya sebagai hadiah Lebaran.”

    Dia mengaku, kelanjutan rencana meminta pegawai negeri ikut membeli sarung Majalaya masih menunggu hasil kesepakatan di kalangan komunitas pengrajin soal standar harga berikut kualitasnya. “Diantara mereka masih belum kompak,” kata Ferry.

    Menurut Ferry, pembelian sarung itu diharapkan membantu pengrajin dalam jangka pendek. “Masih ada langkah-langkah berikutnya. Salah satunya kami ingin memediasi dengan PLN dan perbankan untuk membicarakan soal tagihan listrik, dan kredit.”

    Sebelumnya, salah satu pemilik pabrik, sekaligus ketua komunitas kelompok pengrajin sarung Majalaya, Deden Suwega heran dengan situasi setahun terakhir. “Khusus kain sarung, yang semestinya panen menjelang Ramadhan, tahun ini ada pengecualian,” kata dia pada Tempo, Kamis, 9 Juni 2015.

    Menurut Deden, ada dua momen panennya penjualan sarung, saat Lebaran dan Idul Adha. Turunnya pesanan sarung mulai selepas Idul Adha tahun lalu. “Apalagi kita punya pengalaman istimewa dalam selama tiga tahun, sejak 2010, permintaan nyaris konstan,” kata dia.

    Kendati tidak memiliki data pasti, dari hitungannya berdasarkan informasi sesama pengusaha sarung di Majalaya bisa menembus ratusan ribu kodi. “Teman-teman ada yang punya 10 ribu kodi, ada yang punya 20 ribu kodi. Kalau di akumulasikan kurang lebih ada 250 ribu sampai 300 ribu kodi. Itu setara produksi enam bulan tidak bisa terjual,” kata Deden. Saat ini ada dua ratusan pengusaha sarung di Majalaya.

    Pengusaha sarung yang mayoritas industri kecil, banyak yang memilih berhenti produksi. Sebagian mengurangi kapasitas produksi. Deden misalnya, memilih mengurangi kapasitas produksi dan pekerja. “Pegawai saya dulu ada 40 orang, sekarang tinggal 18 orang,” kata dia.

    Pemicunya, modal kerja tersedot, sementara stok tidak menumpuk di gudang. “Tidak ada permintaan,” kata Deden. “Yang tidak tahan, mulai banting harga karena kesulitan likuiditas. Di harus bayar karyawan, listrik, bahan baku yang jatuh tempo.”

    Menurut Deden, situasi ini sudah diketahui pemerintah. Dia sudah membicarakan ini dengan bupati, pejabat setingkat Dirjen di kementerian, anggota DPR, hingga asosiasi. “Intinya sekarang lagi krisis karena daya beli turun, sementara pengeluaran besar. Dollar masih meningkat. Produsen benang juga gak berani naikin harga, baru kemarin-kemarin ada kenaikan,” kata dia.

    Deden mengatakan, pengusaha sarung membutuhkan solusi instan. “Situasinya ‘emergency’,” kata dia. “Kalau stok ini dipaksa masuk pasar dengan harga dibanting, ke depan akan rusak. Mengangkat harganya lagi akan sulit,” kata dia.

    Dia mengusulkan agar pemerintah atau BUMN memborong stok sarung Majalaya. “Kalau dinilai dalam rupiah tidak seberapa, kami minta tolong dibeli, buat adiah, buat dibagi-bagikan menjelang Lebaran,” kata Deden.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.