Menteri Susi Laporkan Hai Fa ke Interpol  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Susi Pudjiastuti terlihat mengenakan kacamatanya saat mengikuti jelang rapat kerja di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 15 Juni 2015. Rapat ini juga membahas implementasi setelah diterbitkannya peraturan Menteri KKP nomor 57 Tahun 2014, nomor 1 tahun 2014 dan nomor 2 tahun 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Susi Pudjiastuti terlihat mengenakan kacamatanya saat mengikuti jelang rapat kerja di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 15 Juni 2015. Rapat ini juga membahas implementasi setelah diterbitkannya peraturan Menteri KKP nomor 57 Tahun 2014, nomor 1 tahun 2014 dan nomor 2 tahun 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengaku telah melaporkan kapal MV Hai Fa, yang diawaki warga Tiongkok dan kembali ke negara asalnya setelah divonis denda karena membawa ikan ilegal, ke Interpol. "Kami sudah melaporkan Hai Fa kepada Interpol," kata Susi kepada wartawan di gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Senin, 15 Juni 2015.

    Menurut Susi, kapal tersebut seharusnya tetap dinyatakan bersalah karena menyalahi sejumlah regulasi pelayaran internasional.

    Pengadilan Tinggi Maluku telah menguatkan putusan Pengadilan Negeri Ambon terkait dengan kasus kapal MV Hai Fa dengan memvonis denda terhadap nakhoda kapal tersebut senilai Rp 200 juta.

    Sebelumnya, Menteri Susi menuturkan hampir semua kapal eks asing digunakan untuk menangkap ikan secara tidak sah (illegal fishing) di perairan Indonesia. "Hampir 99,99 persen kapal eks asing terlibat dalam illegal fishing. Setidaknya tidak melaporkan hasil tangkapan," ucap Susi.

    Pemerintah melalui Kementerian Kelautan sejak November 2014 telah melarang kapal eks asing mencari ikan di perairan Indonesia dengan menerbitkan kebijakan moratorium perizinannya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.