Kasus Angeline, Kapolri: Kemungkinan Ada Pelaku Lain  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolri Jenderal Pol  Badrodin Haiti, memberikan arahan kepada para prajurit TNI dan Polri di markas 700/Raider di Makassar, 11 Mei 2015. TEMPO/Iqbal Lubis

    Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti, memberikan arahan kepada para prajurit TNI dan Polri di markas 700/Raider di Makassar, 11 Mei 2015. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Bekasi - Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti mengatakan ihwal kasus pembunuhan Angeline, penyidik masih melakukan penyelidikan terkait kemungkinan ada pelaku lain. "Semua kemungkinan-kemungkinan akan selalu kami dalami," kata Badrodin di Bekasi, Senin, 15 Juni 2015.

    Menurut dia, penyidikan dilakukan secara intensif dengan melibatkan ahli-ahli, seperti forensik dan psikologi. Jenderal bintang empat itu mengatakan penyidik akan terus melakukan pengembangan terkait apakah kemungkinan ada pelaku lain.

    Ihwal identitas serta kerabatnya yang ada di Bekasi, Badrodin mengatakan semua informasi berkaitan dengan tersangka akan dilakukan penyelidikan oleh Kepolisian Daerah Bali. "Masih dikembangkan," kata dia.

    Margriet CH Megawe tercatat sebagai warga RT 8 RW 4, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi. Bahkan, nama Angeline tercantum dalam Kartu Keluarga. Di dalam KK itu, bocah berusia delapan tahun itu tercatat sebagai family lain.

    Selain itu, juga tercantum nama ayah angkat Angeline, yaitu Douglas Scarborough. Namun warga asing itu tak ada dalam anggota keluarga. Namanya hanya tercantum sebagai ayah kandung dari Christina Telly. Adapun kepala keluarganya ialah Margriet CH Megawe.

    Douglas disebut-sebut akan memberikan hak warisnya kepada Engeline sebesar 60 persen. Namun Angeline meninggal lebih dulu di usia delapan tahun. Angeline tewas dibunuh di rumahnya, Sanur, Bali. Jasadnya baru ditemukan pada 26 Mei lalu.

    ADI WARSONO 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.