Cerita Tetangga Margriet di Pekanbaru Mengenang Angeline

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tidak jarang, Agus seorang saksi mendengar Angeline dimarahi oleh ibu asuhnya karena Angeline tidak mau menuruti perintah ibu asuhnya tersebut. facebook.com

    Tidak jarang, Agus seorang saksi mendengar Angeline dimarahi oleh ibu asuhnya karena Angeline tidak mau menuruti perintah ibu asuhnya tersebut. facebook.com

    TEMPO.COPekanbaru - Margriet Christina Megawe, ibu angkat bocah malang Angeline, pernah tinggal di Pekanbaru sebelum memutuskan pindah ke Bekasi dan Bali. Sekitar awal 2000-an, Margriet dan keluarganya menempati sebuah rumah di Jalan Garuda, RT 01 RW 06, Kelurahan Labuh Baru Timur, Pekanbaru.

    "Benar, ini rumah ibu Telly Margriet," kata pedagang ayam potong, Alfon, yang menempati kios sebelah kanan pagar rumah tersebut, saat ditemui Tempo, Senin, 15 Juni 2015.

    Menurut Alfon, kios yang ditempatinya juga milik Margriet. Warga sekitar akrab menyapa Margriet dengan nama Telly.

    Berdasarkan pantauan Tempo, dari model bangunannya, rumah itu dibangun tahun 1980-an. Letaknya persis di pinggir Jalan Garuda yang padat penduduk.

    Rumah itu tampak tidak terawat dan sangat berantakan. Catnya berwarna abu-abu kombinasi putih sudah terlihat kusa. Atapnya berkarat. Halaman rumah amburadul, dipenuhi gulma dan ilalang.

    Banyak pohon besar yang tidak lazim tumbuh di halaman rumah serta selalu merontokkan daun kering. Ada pohon pisang, kelapa, rambutan dan kelapa sawit yang tumbuh subur di pojok gerbang pagar. Tumbuhan merambat pun subur menjalar di pagar putih yang berkarat.

    Menurut Alfon, rumah tersebut memang tidak berpenghuni. Namun ada pembantu Margriet, seorang wanita tua bernama Siti. Si pembantu selalu datang membersihkan rumah dan memberi makan anjing. Namun Siti tidak tinggal di rumah tersebut. "Nenek Siti hanya datang membersihkan rumah, lalu sore harinya pulang," ujarnya.

    Alfon mengatakan Margriet hanya pulang sekali dalam setahun untuk melihat rumah itu. Terakhir Margriet datang ke Pekanbaru empat bulan lalu, tepatnya Februari 2015. Dia datang bersama anak angkatnya, Angeline. "Ia di rumah selama 10 hari. Dia bawa si Angeline," ujarnya.

    Saat itu, kata Alfon, dia juga sempat melihat Angeline bermain di halaman rumah. Ia menilai Angeline anak yang cantik dan ceria. Namun Alfon tidak begitu paham silsilah keluarga Margriet. Dia hanya mengetahui suami Margriet seorang pria bule dari warga sekitar. "Saya baru kenal dia dua tahun sejak mengontrak kios miliknya," kata Alfon.

    Alfon pun sangat jarang berkomunikasi dengan Margriet selain urusan kontrakan. Margriet memang terkesan tertutup dan jarang keluar rumah. Namun Alfon punya kenangan tersendiri bersama Angeline.

    Kata Alfon, setiap kali menelepon Margriet untuk membicarakan pembayaran kontrakan, handphone Margriet selalu diangkat lebih dulu oleh Angeline. "Suaranya lembut, sopan sekali menjawab telepon. Setelah itu handphone dia kasihkan ke maminya (Margriet)," ujar Alfon.

    Alfon mengaku kaget mendengar pemberitaan di media massa ihwal tewasnya Angeline, si gadis kecil cantik nan ceria yang dia kenal. Kabar Angeline sempat hilang sebelum ditemukan tewas sudah santer terdengar.

    Namun warga sekitar rumahnya di Pekanbaru lebih kaget lagi mendengar Angeline ditemukan tewas terkubur di belakang rumahnya sendiri di Denpasar, Bali. "Kami terkejut, seakan tidak percaya," ujarnya.

    Peran Margriet Christina Megawe masih menjadi teka-teki atas terbunuhnya Angeline, 8 tahun. Banyak pihak menduga bahwa terbunuhnya Angeline adalah pembunuhan berencana bermotif warisan keluarga.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.