Sultan Minta Benih Tanaman untuk Lahan Kritis di DIY

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Sultan Hamengkubuwono X, berikan sambutan atas logo baru Jogja istimewa di kompleks kantor Gubernur DI. Yogyakarta, 5 Februari 2015. TEMPO/Suryo Wibowo

    Sri Sultan Hamengkubuwono X, berikan sambutan atas logo baru Jogja istimewa di kompleks kantor Gubernur DI. Yogyakarta, 5 Februari 2015. TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO , Jakarta:Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X meminta bantuan benih untuk ditanam di lahan-lahan kritis milik petani di DIY. Luas lahan kritis di DIY mencapai 25.700 hektare. Sultan Hamengku Buwono berharap bantuan benih tersebut bisa menumbuhkan kemandirian perekonomian desa di sektor kehutanan.

    “Jadi pemberdayaan lahan kritis masuk dalam kebijakan rehabilitasi untuk meningkatkan pendapatan petani,” kata Sultan usai penandatanganan nota kesepahaman tentang penelitian dan pengembangan kehutanan, juga rehabilitasi hutan dan lahan dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya di gedung Pracimosono Kepatihan Yogyakarta, Jumat, 12 Juni 2015.

    Benih yang diminta adalah jenis tanaman yang tidak membutuhkan waktu lama untuk diproduksi. Seperti jati purwo yang dalam waktu 10 tahun bisa mencapai diameter 30 sentimeter sehingga bisa dipanen. Berbeda dengan jati yang ditanam Perhutani yang menunggu waktu 60-80 tahun untuk dipanen.

    “Atau tanaman nyamplung yang bijinya bisa untuk biodiesel,” kata Sultan.

    Berdasarkan data Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan R. Sutarto, dari 25.700 hektare lahan kritis di DIY, mayoritas berada di Gunung Kidul sebanyak 18 ribu hektare. Sisanya tersebar di Kulon Progo, Bantul, dan Sleman.

    Sedangkan total luas lahan hutan di DIY mencapai 94 ribu hektare, meliputi hutan rakyat 76 ribu hektare, hutan negara 18.715 hektare, hutan produktif 13.411 hektare, hutan lindung 2.312 hektare, dan hutan konservasi 2.994 hektare.


    PITO AGUSTIN RUDIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.