Forum Santri Tolak Sistem AHWA untuk Memilih Rais Aam NU  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang jamaah berdoa diantara ribuan Jemaah Nahdatul Ulama serta Gusdurian dalam Haul Gus Dur ke-4 di Pondok Pesantren Ciganjur, Yayasan Wahid Hasyim (28/12). TEMPO/Nurdiansah

    Seorang jamaah berdoa diantara ribuan Jemaah Nahdatul Ulama serta Gusdurian dalam Haul Gus Dur ke-4 di Pondok Pesantren Ciganjur, Yayasan Wahid Hasyim (28/12). TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Surabaya - Forum Santri Nusantara menyatakan menolak pelaksanaan Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama di Jakarta pada 14-15 Juni 2015. Forum Santri beralasan, Munas NU telah dikondisikan untuk menyetujui sistem ahlul halli wal aqdi (AHWA) dalam pemilihan Rais Aam Pengurus Besar NU pada muktamar ke-33 di Jombang, 1-5 Agustus 2015. “Kami menolak Munas,” kata Koordinator Forum Santri Nusantara Jawa Timur Ahmad Hambali, Kamis, 11 Juni 2015.

    Menurut dia, sistem AHWA atau pemilihan melalui perwakilan tim formatur sudah ditolak berkali-kali oleh hampir semua Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang NU. “PBNU sepertinya sudah tuli terhadap aspirasi pengurus NU di tingkat bawah,” katanya.

    Menurut Hambali, alasan penerapan sistem AHWA untuk menghindari perpecahan antarkiai setelah muktamar selesai serta meminimalkan praktek-praktek politik uang sangat lemah. “Bahkan bila sistem itu dipaksakan, justru berpotensi  memunculkan konflik antarkiai,” ujarnya.

    Benih-benih perpecahan itu, kata dia, sudah bisa dibaca dari penolakan sejumlah pengurus NU di tingkat wilayah dan cabang di seluruh Indonesia. Karena menimbulkan perpecahan, kata dia, sistem pemilihan AHWA lebih banyak mudaratnya. “Benih-benih konfliknya sudah kelihatan sejak sekarang,” katanya.

    Hambali berujar, dalam sejarah perjalanan pergantian kepemimpinan NU, Rais Aam tercatat selalu dipilih secara langsung dan relatif tidak ada perpecahan di kalangan kiai sampai saat ini. Adapun sistem AHWA hanya sekali diberlakukan, yaitu pada saat  Muktamar NU di Situbondo pada 1984. “Itu pun karena kondisinya sedang genting,” katanya.

    Berdasarkan fakta itu, kata Hambali, dapat disimpulkan bahwa alasan menggunakan sistem AHWA untuk menghindari konflik masih semu. Sebab pemilihan langsung terbukti tidak menimbulkan perpecahan. Hambali meminta kalangan elite NU di pusat tidak merekomendasikan sistem AHWA dalam di Munas. “PBNU semestinya berintrospeksi diri atas penolakan dari pengurus NU wilayah dan cabang,” tuturnya.

    Pada Rabu, 10 Juni 2015, ulama sepuh NU Jawa Timur bertemu di Pesantren Lirboyo, Kediri. Dalam pertemuan yang dikemas sebagai forum kiai itu mereka mengusulkan agar pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dilaksanakan dengan menggunakan metode AHWA. Usulan itu akan dibawa ke Munas NU di Jakarta pada 14-15 Juni 2015 di Jakarta.

    MOHAMMAD SYARRAFAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.