Ini Perbedaan Pernikahan Gibran dengan Ibas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gibran Rakabuming dan Selvi Ananda. Instagram.com/@Gibranrakabuming

    Gibran Rakabuming dan Selvi Ananda. Instagram.com/@Gibranrakabuming

    TEMPO.CO, Jakarta - Putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, akan melangsungkan pernikahannya dengan Selvi Ananda pada Kamis, 11 Juni 2015. Walau Gibran berstatus anak presiden, acara pernikahannya dijalankan seperti halnya masyarakat keturunan Jawa lain.

    Pernikahan Gibran digelar di Kota Solo, tempat tinggal keluarga Joko Widodo. Graha Saba Buwana, gedung pertemuan milik keluarga Jokowi, dipilih sebagai lokasi resepsi pernikahan. Gedung ini mampu menampung 2.000 undangan.

    Gibran menyebar 4.000 undangan untuk berbagai kalangan, termasuk tukang becak yang bertugas mengantarkan tamu-tamu menuju lokasi resepsi.

    Gibran tidak mengundang kepala negara sahabat. Menurut sumber Tempo, hanya para duta besar di Indonesia yang diundang ke pernikahan Gibran.

    Gibran dan Selvi juga disebut menggunakan desainer lokal Solo bernama Hanif Aisyah Nanjaya. Hanif bertugas membuat kebaya yang sederhana tapi elegan bagi kedua mempelai.

    Hal berbeda ditemukan dalam pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas, putra Presiden Indonesia yang keenam, Susilo Bambang Yudhoyono, dengan Aliya Rajasa. Akad nikah Ibas diselenggarakan di Istana Kepresidenan di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Dalam acara ini Ibas menyebarkan 1.000 undangan. 

    Sedangkan untuk menggelar resepsi, Ibas memilih gedung Jakarta Convention Center, yang mampu menampung 5.000 undangan. Ibas menyebar 3.500 undangan dalam acara tersebut. Pernikahan Ibas dihadiri oleh beberapa tamu kenegaraan, seperti korps diplomatik dari beberapa negara.

    Dalam pernikahan Ibas, busana pengantin dirancang desainer terkemuka Indonesia. Baju Ibas dan Aliya didesain dan dibuat oleh Biyan Wanaatmadja.

    MAYA NAWANGWULAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.