Peralatan Tak Ada, 17 Pasien Ortopedi Tak Bisa Dioperasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Andi salah seorang peserta tes Calon Pegawai Negeri Sipil  yang menderita patah tulang akibat kecelakaan tengah mengerjakan soal tes di dalam ambulan yang diparkir di salah satu lokal ujian di Kota Palembang, Sumsel, Minggu (3/11). Tercatat sebanyak 14.340 peserta tes CPNS di 15 Kabupaten dan Kota se-Sumatera Selatan. ANTARA/Feny Selly

    Andi salah seorang peserta tes Calon Pegawai Negeri Sipil yang menderita patah tulang akibat kecelakaan tengah mengerjakan soal tes di dalam ambulan yang diparkir di salah satu lokal ujian di Kota Palembang, Sumsel, Minggu (3/11). Tercatat sebanyak 14.340 peserta tes CPNS di 15 Kabupaten dan Kota se-Sumatera Selatan. ANTARA/Feny Selly

    TEMPO.COJayapura - Sebanyak 17 pasien patah tulang (ortopedi) di Rumah Sakit Umum Daerah Dok II Kota Jayapura, Papua, hingga kini belum menjalani operasi lantaran peralatan tindakan medis ini belum ada. "Saya dan beberapa pasien lain sudah menunggu sejak 5 Mei 2015," kata Jack Pahabol, salah satu pasien ortopedi, Rabu, 10 Juni 2015.

    Jack, yang menderita patah tulang pada pergelangan tangan kanan, merupakan pasien ortopedi rujukan dari Rumah Sakit Kwingga, Kabupaten Keerom. "Perawat RSUD Dok II Kota Jayapura mengatakan saya belum bisa dioperasi karena alat belum ada. Saya sudah menanti cukup lama di rumah sakit ini tanpa ada kejelasan," katanya.

    Kebenaran persoalan ini diakui anggota Komisi V DPRD Papua, Nason Utty, yang melakukan inspeksi mendadak ke RUSD Dok II Kota Jayapura pada Selasa, 9 Juni 2015, bersama Wakil Ketua Komisi V DPRD Papua Neoulon Kotouki. "Selain persoalan ini (ortopedi), alat di unit instalasi gizi sudah rusak sejak 2014," katanya.

    Selain itu, kata Nason, dalam temuannya ini ditemukan banyak sarana dan prasarana rumah sakit yang sudah tak memadai. "Bahkan pengujian alat medisnya belum pernah ada. Padahal alat medis ini sudah ada yang karatan, rusak, dan tak dipakai," ujarnya.

    Nason mengatakan sebelumnya dia pun mendapat laporan bahwa ada pasien yang hendak melahirkan tapi tak dilayani dengan baik. "Akibatnya, pasien yang akan melahirkan itu pulang dan melahirkan di rumahnya. Ini yang membuat kami turun ke lapangan," katanya.

    Menurut Nason, selain melihat langsung sarana dan prasarana RSUD Dok II Kota Jayapura, dalam kunjungan ini mereka membahas status RSUD Dok II  Jayapura sebagai rumah sakit rujukan nasional. "Sebab ini perlu dipersiapkan, dari grand design, kelayakan lokasi, pendanaan, dan masukan dari masyarakat," tuturnya.

    Direktur RSUD Dok II Kota Jayapura dokter Yerri Msen mengakui masalah yang dihadapi rumah sakit yang dipimpinnya sudah sangat kompleks, seperti banyaknya peralatan medis yang sudah tak layak dan tak adanya alat operasi bagi 17 pasien ortopedi. 

    "Sedangkan ihwal tak dilayaninya pasien bersalin, saat itu keluarga pasien ini bertindak kasar dan memukul petugas medis. Makanya saat ini ada brimob yang berjaga," katanya.

    CUNDING LEVI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.