DPD RI Bangun Gedung Rp 21 Miliar di Kupang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pimpinan DPD RI, Irman Gusman (tengah), bersama Farouk Muhammad dan GKR Hemas menyampaikan pidato usai dilantik oleh Hakim Mahkamah Agung di Gedung Nusantara V, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, 2 Oktober 2014. TEMPO/Frannoto

    Pimpinan DPD RI, Irman Gusman (tengah), bersama Farouk Muhammad dan GKR Hemas menyampaikan pidato usai dilantik oleh Hakim Mahkamah Agung di Gedung Nusantara V, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, 2 Oktober 2014. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Kupang - Dewan Perwakilan Daerah (DPD) hari ini memulai pembangunan gedung aspirasi rakyat senilai Rp 21 miliar di Jalan Polisi Militer, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    "Dana pembangunan gedung lantai tiga ini sebesar Rp 21 miliar," kata Sekretaris Jenderal  DPD Sudarsono Hardjosoekarso dalam acara peletakan batu pertama pembangunan gedung aspirasi rakyat milik DPD di Kupang, Rabu, 10 Juni 2015.

    Gedung aspirasi rakyat ini dibangun tiga tingkat di atas lahan seluas 2.100 meter persegi. Pembangunan gedung itu ditargetkan selesai dalam tujuh bulan. Menurut Sudarsono, gedung ini merupakan gedung aspirasi rakyat kedua yang dibangun oleh DPD. "Sebelumnya kami membangun gedung DPD di Palembang," ucapnya.

    Gedung aspirasi rakyat, kata Sudarsono, akan dibangun di seluruh Indonesia. Gedung ketiga akan dibangun di Yogyakarta, sedangkan keempat di Kalimantan Barat. "Gedung ini akan digunakan anggota DPD asal daerah perwakilan," katanya.

    Ketua DPD Irman Goesman mengatakan gedung ini dibangun untuk mendukung pembangunan kawasan Indonesia timur dan menampung seluruh aspirasi rakyat NTT untuk diperjuangkan DPD di pemerintah pusat.

    "Seluruh aspirasi rakyat bisa disampaikan ke anggota DPD asal NTT yang menggunakan gedung ini," kata Irman.

    YOHANES SEO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.