Status Gunung Sinabung Masih Awas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi Desa Guru Kinayan, Karo,  setelah Gunung Sinabung meletus, pada Rabu dini hari, 29 April 2015. Sejumlah bangunan di desa, yang berjarak 4 kilometer dari Gunung Sinabung, rusak parah. ANTARA/Endro Lewa

    Kondisi Desa Guru Kinayan, Karo, setelah Gunung Sinabung meletus, pada Rabu dini hari, 29 April 2015. Sejumlah bangunan di desa, yang berjarak 4 kilometer dari Gunung Sinabung, rusak parah. ANTARA/Endro Lewa

    TEMPO.CO , Bandung - Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Pusat Vukanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, I Gusti Made Agung Nandaka, mengatakan status gunung Sinabung masih "awas" atau level IV. “Sekarang sedang di evaluasi, trennya seperti apa,” katanya  saat dihubungi Tempo, Selasa, 9 Juni 2015.

    Made menambahkan, evaluasi itu untuk menganalisis aktivitas Gunung Sinabung. Terutama dari morfologi dan volume kubah, karena sekarang lebih melebar walaupun panjang dan tingginya relatif tetap. “Ini harus dianalisa, apakah  menuju ke arah lebih stabil atau mungkin menuju longsoran.”

    Menurut Made, aktivitas kegempaan Gunung Sinabung masih fluktuatif. Kegempaan Sinabung saat ini dominan terekam gempa guguran, yakni gempa yang terekam alat karena jatuhnya batu-batuan dari puncak gunung. “Dari total jenis gempa yang terekam energinya jika dijumlahkan menunjukan tren yang sedikit meningkat dibandingkan hari-hari sebelumnya,” katanya. 

    Made berkata, pengamatan visual kubah lava Gunung Sinabung terlihat lebih lebar. Yang lebih dominan terlihat perubahan lebarnya. Tinggi dan panjang masih relatif sama dengan sebelumnya. “Voumenya kelihatannya bertambah.” (Baca: Penduduk Empat Desa di Kaki Gunung Sinabung Diungsikan)

    Gunung Sinabung hari ini, 9 Juni 2015, kembali mengeluarkan letusan abu diselingi embusan asap putih tebal. “Ada letusan kecil,” kata Made. Letusan vertikal tersebut menghasilkan asap tebal setinggi lebih dari 1.000 meter. Belum ada laporan tentang dampak abu letusan gunung itu.

    Made mengatakan lembaganya mewaspadai potensi longsoran kubah lava Gunung Sinabung. “Karena longsoran kubah itu akan menjadi awan panas,” kata dia.

    Dia meminta masyarakat mengikuti panduan pemerintah daerah setempat. “Kami mengirimkan laporan perkembangan aktivitas Gunung Sinabung tiap enam jam sekali kepada BNPB, Gubernur Sumatera Utara, Bupati Karo, dan semua stakeholder di sana,” kata Made.

    Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi masih memberlakukan rekomendasi yang sama saat status aktivitas Gunung Sinabung naik menjadi awas, sejak 2 Juni 2015, pukul 23.00 WIB. Sejumlah rekomendasi itu di antaranya agar warga tidak beraktivitas dalam radius 7 kilometer sektor selatan-tenggara, yakni di Pasarpinter Gurukinayan-Simpang Sibintun/Perjumaan Batukejan, Jembatan Lau Benuken Tigapancur, Desa Tigapancur-Pejumaan Tigabogor, Desa Pintumbesi agar dievakuasi karena berada di lembah gunung. Lalu radius 5 kilometer sektor tenggara terutama di wilayah bukaan lembah gunung, selebihnya dalam radius 3 kilometer.

    Pusat Vulkanologi juga merekomendasikan penutupan jalan, dari Simpang Gurukinayan-simpang Sibintun-Jembatan Lau Benuken Tigapancur-Ojolali-Tigapancur-Simpang Beganding dan Perjumaan Tigabogor, jika terjadi peningkatan frekuensi ancaman awan panas di sektor selatan-tenggara. Warga yang terkena dampak abu letusan juga diimbau agar memakai masker saat ke luar rumah dan mengamankan sarana air bersih dari jatuhan abu supaya tidak terkontaminasi.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.