TKI Tewas di Gulungan Kasur, Dihabisi Pacarnya?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • sxc.hu

    sxc.hu

    TEMPO.CO, Malang - Wiji Astutik, tenaga kerja wanita Indonesia yang ditemukan tewas di Hong Kong, Senin, 8 Juni 2015, diduga menjadi korban pembunuhan yang dilakukan kekasihnya sendiri.

    Perempuan berusia 37 tahun asal Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu ditemukan tewas dalam bungkusan kasur di depan sebuah toko di Changsha Street, Mong Kok, Distrik Yau Tsim Mong, pukul 10.44 waktu setempat. Dugaan Wiji meninggal dunia karena dibunuh berdasarkan sejumlah luka bekas tikaman senjata tajam pada jenazah korban.

    “Informasi yang kami tahu di sini, dia dibunuh oleh pacarnya, orang Asia Tengah. Mereka hidup bersama di sebuah apartemen,” kata seorang aktivis buruh migran Indonesia di Hong Kong kepada Tempo lewat percakapan di jejaring sosial pada Selasa sore, 9 Juni 2015.

    Menurut aktivis tersebut, di kalangan buruh migran Indonesia di Hong Kong, Wiji diketahui berpacaran dengan seorang pria Asia Tengah. Si pacar diduga berkebangsaan antara India atau Pakistan. Wiji sering mengeluhkan ketidakharmonisan hubungan asmaranya.

    Wiji mengaku kerap dianiaya oleh pacarnya tersebut. Karena itu, Wiji sering dinasihati dan diperingatkan oleh kawan-kawannya untuk segera mengakhiri hubungan gelap tersebut.

    Desakan agar Wiji segera mengakhiri kisah asmaranya makin sering disarankan oleh rekan-rekannya setelah santer beredar kabar pacarnya memiliki catatan kriminal terkait dengan penyimpanan narkoba. Sang pacar juga sering dikejar-kejar penagih utang.

    “Motif pembunuhannya belum jelas, Mas. Polisi masih terus menyelidiki, tapi kami yakin pelakunya pasti tertangkap,” ujar aktivis buruh migran tersebut.

    Jenazah Wiji dijadwalkan tiba Selasa tengah malam di Bandar Udara Internasional Juanda di Sidoarjo.

    ABDI PURMONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.