2035, Empat Bencana Iklim akan Kepung Jakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menggunakan kasur tiup sebagai perahu darurat untuk  melintasi banjir setinggi 80 cm di Petogogan, Jakarta Selatan, 25 Maret 2015. TEMPO/Dasril Roszandi

    Warga menggunakan kasur tiup sebagai perahu darurat untuk melintasi banjir setinggi 80 cm di Petogogan, Jakarta Selatan, 25 Maret 2015. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Jakarta diprediksi akan terkena dampak paling parah akibat perubahan iklim dibanding Depok dan Bogor. Hasil riset terbaru yang dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung bersama American Red Cross dan Palang Merah Indonesia menunjukkan pemanasan global akan meningkatkan kerentanan iklim di kawasan sepanjang Daerah Aliran Sungai Ciliwung.

    Ibu Kota bakal menghadapi empat dampak bencana iklim sekaligus pada 2035: suhu diprediksi meningkat 2 derajat Celsius, curah hujan meningkat, cadangan air tanah menurun, dan permukaan air laut meningkat di Jakarta Utara.

    Menurut Armi Susandi, Ketua Program Studi Meteorologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, empat ancaman bencana tersebut membuat Jakarta menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim di Asia Tenggara. Jika tidak dilakukan adaptasi dan mitigasi simultan sejak dini, bukan tidak mungkin keadaan menjadi lebih buruk.

    Ancaman banjir, misalnya, tidak hanya berasal dari Jakarta, tapi juga “kiriman” dari Bogor dan Depok, yang berada di dataran yang lebih tinggi. “Upaya adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat, pemerintah, dan swasta di Jakarta harus melibatkan dua daerah di atasnya,” kata Armi saat memaparkan hasil risetnya dalam acara membahas perubahan iklim di perkotaan di Jakarta, 26 Mei 2015.

    Armi dan tiga koleganya dari ITB, Saut Sagala, Mamad Tamamadin, dan Dodon Yamin, menggunakan data yang berlimpah untuk menghasilkan kesimpulan tersebut, yakni data curah hujan bulanan di 19 titik pengamatan selama 30 tahun, data temperatur di 7 titik pengamatan selama 30 tahun, peta jenis tanah, serta tata guna lahan di Jakarta, Depok, dan Bogor.

    Data populasi penduduk juga dipakai untuk mengembangkan proyeksi potensi penurunan cadangan air tanah atau penurunan permukaan tanah. Proyeksi dilakukan sampai 2035 dengan interval 5 tahunan. Simulasi kenaikan permukaan laut di Jakarta sampai 2100 menggunakan data Digital Elevation Model IFSAR resolusi tinggi 5 meter. Hanya Jakarta yang diteliti defisit cadangan air tanah dan kenaikan permukaan lautnya.

    Dari penelitian yang dilakukan pada 2013 menunjukkan bahwa peningkatan suhu pada 2035 bervariasi di tiap kota. Di Jakarta, misalnya, diproyeksikan naik dua derajat Celsius. Di Depok naik 1,3 derajat Celsius, dan di Bogor 2,5 derajat Celsius. Curah hujan pada saat itu juga akan meningkat 200 milimeter per bulan di Bogor, 100 milimeter di Depok, dan 40 milimeter di Jakarta.

    AHMAD NURHASIM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mereka yang Dianggap Layak Jadi Menteri, Tsamara Amany Disebut

    Nama-nama yang dianggap layak menjabat menteri kabinet Jokowi - Ma'ruf kuat beredar di internal partai pendukung pasangan itu. Tsamara Amany disebut.