Heboh Merica Palsu di Banjarnegara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kepolisian dari Polda Metro Jaya  menunjukan barang bukti obat palsu merek Tramadol HCL di Sepatan Tangerang, Banten, 23 Juni 2014. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Petugas kepolisian dari Polda Metro Jaya menunjukan barang bukti obat palsu merek Tramadol HCL di Sepatan Tangerang, Banten, 23 Juni 2014. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Banjarnegara - Setelah heboh beras plastik, di Banjarnegara, Jawa Tengah, masyarakat dihebohkan dengan dugaan peredaran merica palsu di pasar tradisional. "Kami mendapat laporan dari warga mengenai adanya merica palsu yang beredar di pasar tradisional, setelah kami cek memang benar ada merica palsu yang beredar," kata Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Banjarnegara, Jawa Tengah, Hari Arumbinuko, Selasa, 9 Juni 2015.

    Merica itu dijual dalam kemasan plastik yang sudah terbungkus rapat. "Merica palsu itu dijual dalam bungkus plastik setengah kiloan yang dicampur dengan merica asli,” ujarnya.

    Akibatnya pembeli tidak bisa melihat merica yang ada dalam kemasan itu. Padahal biasanya merica di pasar tradisional dijual dalam bentuk curah. Menurut Hari, hingga kini instansinya belum tahu jenis bahan yang digunakan dalam merica itu. Dia juga tak menjelaskan bagaimana instansinya menyatakan merica itu palsu.

    Merica yang dioplos dengan merica asli dijual dengan harga miring. “Konsumen tergiur untuk membeli,” kata Hari. Biasanya merica asli dijual seharga Rp 190 ribu tiap kilogram. Adapun merica yang diduga palsu ini dijual seharga Rp 150 ribu per kilogram.

    Dinas Perindustrian meminta pedagang untuk tidak menjual merica palsu itu. Sejumlah pedagang yang menjual merica palsu juga dimintai keterangan polisi. "Beberapa pedagang hingga saat ini sedang diproses, karena kasus ini termasuk juga dalam kasus penipuan," ujar Hari.

    Menurut Hari, merica itu berasal dari luar Banjarnegara. Dia mengimbau  konsumen agar lebih berhati-hati. "Kami minta konsumen untuk lebih teliti dalam membeli apalagi menjelang puasa. Biasanya dalam kondisi ini, banyak orang yang tak bertanggung jawab mencari keuntungan sebanyak-banyaknya," katanya.

    ARIS ANDRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.