Cuaca Buruk, Nelayan Palopo Diminta Waspada Melaut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi nelayan melaut pada saat cuaca buruk. ANTARA/Dedhez Anggara

    Ilustrasi nelayan melaut pada saat cuaca buruk. ANTARA/Dedhez Anggara

    TEMPO.CO , Palopo: Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Luwu Raya di Masamba, mengingatkan, nelayan di Kota Palopo dan sekitarnya agar mewaspadai cuaca buruk yang terjadi di perairan laut Palopo dan Teluk Bone. Nelayan diingatkan melihat kondisi cuaca sebelum turun melaut, lantaran kondisi cuaca yang tidak menentu memasuki minggu kedua Juni ini.

    "Bagi nelayan yang ingin menangkap ikan di wilayah Teluk Bone dan sebelah timur, nelayan akan menjumpai arus gelombang yang relatif tinggi lebih dari 1,5 meter, sehingga dapat membahayakan. Kami sarankan, untuk sementara waktu tidak melaut ke kawasan itu," kata Kepala BMKG Masamba, Achadi Subarkah Raharjo, Ahad, 7 Juni 2015.

    Sebelumnya, warga Toraja dilaporkan tewas saat perahu yang ditungganginya terbalik dihantam angin kencang dan ombak tinggi di perairan Teluk Bone, saat hendak menuju empang di wilayah utara perairan Teluk Bone. Satu di antaranya masih dilaporkan hilang sampai sore kemarin.

    Achadi menyarankan nelayan yang ingin melaut agar tidak terlalu jauh keluar. Sebab, kondisi cuaca yang kerap berubah-ubah bisa mengundang musibah bagi nelayan.

    Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Palopo, Ilham mengatakan, DKP telah menyiapkan personel Polairud untuk berjaga di wilayah perairan terkait cuaca tidak menentu. Selain itu, mengenai cuaca buruk, Ilham meminta nelayan perlu waspada jangan sampai kejadian yang kapal tenggelam hingga menelan korban jiwa terjadi kepada nelayan khususnya di Palopo.

    "Pemerintah hanya bisa mengingatkan nelayan agar meningkatkan kewaspadaan saat bekerja di laut untuk aktivitas menangkap ikan. Yang terpenting, warga bisa menjaga keselamatan masing-masing. Baiknya lihat cuaca terlebih dahulu sebelum melaut," kata Ilham.

    llham prihatin dengan adanya kejadian yang menimpa tiga warga Toraja dan satu warga Palopo yang dilaporkan meninggal karena dihantam ombak tinggi dan angin kencang saat hendak menuju salah satu empang di wilayah utara. "Kita harapkan jangan sampai kejadian ini terjadi kepada nelayan, kita harap demikian," ujarnya.

    HASWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.