Wali Kota Banda Aceh Kampanye 'Jam Malam' Perempuan di Kampus  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personil Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH) mengamankan sejumlah perempuan yang terjaring razia di tempat hiburan pada malam pergantian tahun masehi di Banda Aceh, Aceh (1/1). Muspida kota Banda Aceh dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) melarang perayaan pergantian tahun masehi 2013 ke 2014 bagi warga muslim di provinsi yang telah memberlakukan hukum Syariat Islam itu. ANTARA/Irwansyah Putra

    Personil Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH) mengamankan sejumlah perempuan yang terjaring razia di tempat hiburan pada malam pergantian tahun masehi di Banda Aceh, Aceh (1/1). Muspida kota Banda Aceh dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) melarang perayaan pergantian tahun masehi 2013 ke 2014 bagi warga muslim di provinsi yang telah memberlakukan hukum Syariat Islam itu. ANTARA/Irwansyah Putra

    TEMPO.CO, Banda Aceh - Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal memenuhi undangan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Syiah Kuala dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Aceh untuk berdiskusi tentang pembatasan jam kerja terhadap perempuan di Aceh. Diskusi sekaligus sosialisasi kebijakannya ini dilakukan di Masjid Kampus Darussalam, Banda Aceh, Jumat sore, 5 Juni 2015. 

    ”Instruksi wali kota untuk penegakan syariat Islam di Banda Aceh, yang beriman sangat mendukung, dan yang tidak selalu membesar-besarkan,” ujar Illiza kepada peserta sosialisasi yang berasal dari mahasiswa dan masyarakat lingkungan kampus. 

    Dia menceritakan kembali perihal lahirnya instruksinya tentang pengawasan dan penertiban pelayanan tempat wisata/rekreasi/hiburan, penyedia layanan Internet, kafe/sejenisnya, dan sarana olahraga di Kota Banda Aceh yang dikeluarkan pada 18 Mei 2015 itu. “Ini sesuai dengan perintah Gubernur Aceh sebelumnya,” ucapnya. 

    Menurut dia, Instruksi Wali Kota Banda Aceh Nomor 1 Tahun 2015 itu dikeluarkan untuk melindungi pekerja perempuan di tempat-tempat tertentu, seperti kafe dan tempat hiburan lain. Juga melindungi anak muda agar tidak berkeliaran sampai larut malam. “Kalau untuk pekerja lain, seperti perawat dan bidan, tidak jadi masalah.” 

    Illiza menyebutkan pembatasan jam kerja sampai pukul 23.00 WIB untuk perempuan pekerja di Banda Aceh tersebut disesuaikan dengan Undang-Undang Tenaga Kerja, yang juga melindungi pekerja perempuan. 

    Menurut dia, sanksi terhadap perempuan yang melanggar aturan itu tidak diatur. Jika kepergok dalam razia yang rutin dilakukan petugas setempat, mereka hanya akan diperingatkan. Sanksi hanya diberikan kepada tempat-tempat kerja sesuai dengan yang tercantum dalam instruksi tersebut. 

    Ustad Masrul Haidi mengatakan mendukung instruksi tersebut untuk menegakkan Islam di Aceh. "Kembalilah kepada fitrah seperti ajaran Allah, hidup dan bekerja pada siang dan beristirahat pada malam,” ujarnya.

    Nurlina, guru Madrasah Aliyah Negeri Darussalam, mengatakan prihatin dengan banyaknya remaja putri di Banda Aceh yang berkeliaran di tempat-tempat ramai tanpa malu. “Bahkan sampai larut malam.” 

    Nurlina berharap instruksi itu terus dilaksanakan dan sosialisasinya digencarkan agar diketahui oleh seluruh masyarakat Banda Aceh. “Supaya tidak muncul keresahan di kemudian hari,” ujarnya.

    ADI WARSIDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.