Warga Tolak Buaya Dipindah, Soekarwo: Itu Enggak Bagus

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Timur, Soekarwo. TEMPO/Fully Syafi

    Gubernur Jawa Timur, Soekarwo. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Surabaya - Meski warga menolak, Pemerintah Provinsi Jawa Timur tetap berusaha memindahkan buaya muara yang lebih dari sepekan terakhir berkeliaran di hulu Sungai Porong ke tempat lain.

    Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan telah meminta Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) agar melakukan upaya persuasi kepada warga. “Saya juga minta ke Bupati Sidoarjo supaya menyadarkan masyarakat,” katanya kepada Tempo di Bank UMKM, Surabaya, Jumat, 5 Juni 2015.

    Buaya muara, kata Soekarwo, tergolong hewan berbahaya. Di sisi lain, hulu Sungai Porong yang terletak di Dusun Awar-awar, Kecamatan Tambak Rejo, Kecamatan Porong, tersebut dekat dengan permukiman warga.

    “Sungainya akrab dengan masyarakat, ini bisa bahaya. Tugas negara melindungi rakyatnya. Kalau seperti itu korbannya bisa masyarakat, nggak bagus,” ujar dia.

    Soekarwo menyayangkan sikap warga yang justru menolak upaya BKSDA mengevakuasi buaya spesies Cocrodylus porosus itu. Dalih warga, keberadaan buaya putih itu mendatangkan rezeki dari kutipan uang parkir penonton. “Pendapatan dengan keselamatan berbeda. Yang dipikirkan seharusnya keselamatan jiwa. Jiwa lebih penting daripada uang,” tutur Soekarwo.

    BKSDA Jawa Timur sendiri batal memindahkan buaya yang berkeliaran di Sungai Porong itu karena dihalang-halangi masyarakat. Padahal sejak Kamis kemarin BKSDA telah menyiapkan peralatan evakuasi, termasuk mendirikan tenda di tepi sungai.

    Atas keberatan warga tersebut tim evakuasi BKSDA akhirnya meninggalkan lokasi. Meski demikian, pihaknya terus menempatkan dua orang petugas setiap hari untuk melakukan pemantauan.

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.