Kontras: Polisi Gegabah dalam Penanganan Terorisme  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah personil Brimob berpatroli rutin di Dusun Gantinadi, Desa Tangkura, Poso Pesisir, Poso, Sulteng, 14 Maret 2015. Kapolda Sulteng, Brigjen Idham Azis, mengatakan sepanjang Januari-Maret 2015, sebanyak 12 warga Poso ditangkap terkait kelompok jaringan teroris pimpinan Santoso. ANTARA/Zainuddin MN

    Sejumlah personil Brimob berpatroli rutin di Dusun Gantinadi, Desa Tangkura, Poso Pesisir, Poso, Sulteng, 14 Maret 2015. Kapolda Sulteng, Brigjen Idham Azis, mengatakan sepanjang Januari-Maret 2015, sebanyak 12 warga Poso ditangkap terkait kelompok jaringan teroris pimpinan Santoso. ANTARA/Zainuddin MN

    TEMPO.CO, Makassar - Wakil Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Sulawesi, Nasrum, mengatakan dipulangkannya lima mahasiswa yang mulanya diduga teroris itu membuktikan kepolisian tidak cermat dalam penanganan perkara terorisme.

    "Itu bukti polisi telah bertindak gegabah. Kepolisian harus meminta maaf kepada keluarga mahasiswa yang sempat ditangkap," kata dia, Rabu, 3 Juni 2015.

    Tidak hanya itu, Nasrum menuturkan kepolisian harus memulihkan nama baik para mahasiswa yang dicokok dengan tuduhan terlibat kelompok teroris. Musababnya, penangkapan mereka telah diekspose ke media.

    Kontras Sulawesi juga mendorong adanya evaluasi penanganan kasus terorisme oleh kepolisian. "Khawatirnya ada yang dieksekusi (tewas) padahal masih terduga teroris," katanya.

    Nasrum meminta kepolisian, khususnya Densus 88, lebih cermat lagi dalam pengungkapan kasus terorisme. Kepolisian juga diharapkan bersikap transparan dan tak membatasi akses informasi, khususnya bagi keluarga terduga teroris yang sempat ditangkap. Selama ini, kepolisian dinilai agak tertutup ihwal tindak lanjut penanganan kasus-kasus terorisme.

    Sebelumnya, Mabes Polri menyampaikan lima mahasiswa terduga teroris yang ditangkap di Makassar, Ahad 24 Mei lalu, telah dipulangkan. Mereka adalah Salman Alfarizi alias Ijol dan Abdul Azis (mahasiswa Universitas Muhammadiyah, Makassar). Tiga orang lainnya adalah Hasanuddin dan Firmansyah (mahasiswa Universitas Indonesia Timur) serta Andi Irawan (mahasiswa Stikper Gunung Sari).

    Dalam operasi penumpasan teroris akhir Mei lalu, Densus menangkap sembilan terduga teroris. Tujuh ditangkap hidup-hidup dan dua tewas tertembak lantaran melakukan perlawanan. Terduga teroris yang tewas tertembak di Poso diketahui bernama Ano Lampe dan Azis Masamba. Adapun, dua terduga teroris yang dicokok di luar lima mahasiswa itu adalah Abdul Qadir alias Abu Ayman dan Nur Kholid alias Minde.

    Qadir yang diketahui berdomisili di Kabupaten Gowa ditangkap di Palu, Jumat, 22 Mei, dengan barang bukti ratusan amunisi. Adapun, Kholid dicokok seusai penyergapan lima mahasiswa di Makassar. Kholid diamankan di Luwuk, Sulawesi Tengah. "Yang dua itu lanjut ke tingkat penyidikan," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Agus Riyanto.

    TRI YARI KURNIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.