Sabtu Ini, Buaya Sungai Porong Diruwat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berbondong-bondong saksikan buaya putih di hulu Sungai Porong. TEMPO/Artika Rachmi Farmita

    Warga berbondong-bondong saksikan buaya putih di hulu Sungai Porong. TEMPO/Artika Rachmi Farmita

    TEMPO.CO, Sidoarjo - Buaya yang muncul di perairan Sungai Porong, Dusun Awar-awar, Desa Tambakrejo, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo, pada Sabtu mendatang, 6 Juni 2015, akan diruwat. Ruwatan itu dilangsungkan bersamaan dengan sedekah bumi.

    "Sabtu malam sedekah bumi. Siangnya di sana ada ruwatan," kata Sutamar, warga setempat, kepada Tempo, Rabu, 3 Juni 2015. Sutamar mengatakan dulu ketika dilangsungkan sedekah bumi buaya itu sering muncul di permukaan.

    Menurutnya, warga setempat sejak dulu telah mempercayai bahwa di Sungai Porong yang melintasi dusun mereka ada penunggunya. Penunggunya dipercayai berupa buaya. Buaya itu diyakini buaya yang dalam sepekan terakhir ini sering muncul.

    Sabar, tetua warga Dusun Awar-awar, mengaku pada Jumat dinihari lalu sempat ditemui jelmaan penunggu buaya itu. Buaya itu menanyakan perihal sedekah bumi. "Pak, kapan sedekah buminya," kata dia menirukan jelmaan tersebut.

    Kemunculan buaya di Sungai Porong menghebohkan warga Sidoarjo. Warga pun berbondong-bondong ingin melihat langsung. Kejadian itu memberikan berkah tersendiri bagi warga setempat. Mereka berjualan dan membuka jasa parkir untuk pengunjung.

    Kemunculan buaya ditenggarai sejumlah pihak karena migrasi buaya dari muara Sungai Porong. Sementara itu, pihak lain menduga buaya itu berasal dari peliharaan seseorang yang sengaja dilepas.

    Adapun Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur tak mau berspekulasi terkait dengan itu. BKSDA sementara ini fokus memantau dan mengidentifikasi. Bahkan, bila disetujui warga, akan melakukan evakuasi.

    NUR HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.