Jokowi Mantu: Baju Pengantin Gibran dan Selvi Tinggal Dicoba

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming dan calon istrinya Selvi Ananda saat konfrensi pers menjelang pernikahannya di gedung Graha Saba, Surakarta, Jawa Tengah, 14 April 2015. Meski tidak menyampaikan secara rinci kapan tanggal pernikahan akan dilaksanakan, Iriana memastikan waktu digelarnya pernikahan awal Juni 2015 nanti. Tempo/Bram Selo Agung

    Putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming dan calon istrinya Selvi Ananda saat konfrensi pers menjelang pernikahannya di gedung Graha Saba, Surakarta, Jawa Tengah, 14 April 2015. Meski tidak menyampaikan secara rinci kapan tanggal pernikahan akan dilaksanakan, Iriana memastikan waktu digelarnya pernikahan awal Juni 2015 nanti. Tempo/Bram Selo Agung

    TEMPO.COJakarta - Perancang busana dari rumah mode Bilqis, Tuti Adib, menjadi salah satu desainer baju pernikahan Gibran Rakabuming Raka dengan Selvi Ananda. Busana rancangannya untuk Gibran dan Selvi sudah selesai dikerjakan.

    "Busana untuk pernikahan sudah hampir 100 persen selesai," kata Tuti, Rabu, 3 Juni 2015. Ia menjelaskan busana itu tinggal fitting terakhir dan bisa langsung diserahkan kepada pemesannya.

    Tuti menuturkan ada tiga jenis pakaian yang dipesan di Bilqis, terutama untuk kedua mempelai. Dalam upacara ijab kabul, pengantin akan memakai kebaya kutu baru untuk mempelai perempuan. Sedangkan mempelai pria mengenakan beskap. "Keduanya menggunakan warna broken white," ujarnya.

    Untuk upacara midodareni, mempelai perempuan akan menggunakan kebaya Jawa hijau kekuningan. Sedangkan mempelai pria memakai beskap landung dengan warna yang sama.

    Tuti juga merancang baju untuk kedua mempelai yang akan digunakan untuk acara pengajian. Selvi akan mengenakan busana muslim yang sederhana berwarna hijau. Sedangkan Gibran menggunakan baju taqwa.

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Kartel Harga Tiket Pesawat Siap Disidangkan

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha menduga mahalnya harga tiket pesawat disebabkan pasar oligopolistik. Citilink dan Lion Air diduga terlibat.