Takut Dikriminalisasi, Banyak yang Ragu Daftar Pimpinan KPK  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Tim Panitia Seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Betti S. Alisjahbana. Dok. Tempo

    Anggota Tim Panitia Seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Betti S. Alisjahbana. Dok. Tempo

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara panitia seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Betti Alisjahbana, mengakui banyak calon potensial pimpinan KPK yang enggan mendaftar.

    Mereka takut dikriminalisasi seperti para pimpinan saat ini dan sebelumnya. "Tantangan kami saat ini beberapa orang merasa ragu ikut seleksi karena tantangannya semakin tinggi melihat situasi saat ini," ujar Betti di Sekretariat Negara, Senin, 1 Juni 2015.

    Betti mengatakan pihaknya membutuhkan langkah ekstra supaya orang-orang yang sesuai kriteria itu mau mendaftar. Ia kemudian meminta bantuan beberapa instansi untuk ikut membujuk dan merayu para kandidat yang dinilai cocok memimpin KPK.

    "Biasanya orang yang bisa meyakinkan itu adalah orang-orang yang kenal baik (dengan kandidat), jadi kami merangkul pihak-pihak tersebut," kata dia. Instansi yang dimaksud Betti seperti asosiasi profesi, forum pemimpin redaksi, dan kelompok lintas agama.

    "Itu lembaga-lembaga yang akan kami undang untuk mendorong orang-orang yang memenuhi syarat," ujarnya. Soal usulan nama, Betti menjamin siapa pun boleh mengusulkan. Ia memastikan semua nama yang masuk akan melewati proses seleksi yang sama, tanpa kecuali.

    Jokowi membentuk panitia seleksi KPK beberapa pekan lalu. Anggota panitia seleksi diisi oleh para srikandi yang profesional di bidangnya masing-masing. Mereka akan membuka pendaftaran calon pimpinan KPK pada 5 Juni 2015. Selama proses penyaringan panitia seleksi berkantor di Sekretariat Negara, Jakarta Pusat.

    TIKA PRIMANDARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.